KONSTRIBUSI ABU AMAR AL-DANI
DALAM PERLETAKKAN
QAIDAH RASM
MUSHAF
Nurain
Apriliani Kantu
Sri
Elvina Madjid
Institut Agama Islam Negeri
Sultan Amai Gorontalo
Abstrak
Keberagaman dalam cara
membaca Alquran sejak masa Khalifah Utsman bin Affan menjadi kekhawatiran utama
pada masa itu. Keberagaman ini disebabkan adanya perbedaan dialek antar suku
yang berbeda-beda. Hal ini menjadi awal lahirnya kebijakan istilah cara penulisan (rasm) yang
merupakan salah satu cabang ilmu Alquran. Rasm Us\mani adalah standar
yang dijadikan dalam penulisan mushaf Alquran. Penulisan dengan pola
standarisasi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perselisihan antar umat di
generasi selanjutnya.
Ada banyak tokoh yang turut
berkonstribusi dalam penulisan mushaf Alquran. Imam Abu Amar al-Dani merupakan
salah satu tokoh terkenal dalam perletakkan kaidah penulisan (rasm) mushaf
Alquran. Sehingga, dalam kajian ini penulis bertujuan untuk mengetahui lebih
jauh lagi tentang kaidah rasm mushaf, mengenal sosok Imam Abu Amar al-Dani
serta konstribusi beliau dalam perletakkan pola rasm mushaf.
Adapun metode pengumpulan
data yang digunakan dalam penyusunan tulisan ini bersifat kajian pustaka,
mengumpulkan berbagai sumber yang berkaitan dengan kaidah rasm mushaf melalui
buku-buku yang tersedia juga beberapa jurnal yang dikutip. Data-data yang
dikumpulkan telah diklasifikasikan kemudian diberi simpulan pada beberapa
kategori.
Hasil menunjukkan bahwa konstribusi Imam Abu
Amar al-Dani dalam perletakkan kaidah rasm mushaf terbilang cukup banyak. Baik
dari segi haz\f dan isbat
(penghilangan dan penetapan huruf), ziyadah (penambahan), penulisan hamzah,
badal, was}al dan fas}al (penyambungan dan pemisahan
huruf), dan lainnya. Tulisan ini diharapkan mampu menambah khasanah imu
pengetahuan bagi penulis dan para pembaca tentang ilmu rasm mushaf.
Kata kunci : Konstribusi, Rasm, Mushaf
A.
PENDAHULUAN
Mushaf Alquran
yang merupakan kitab umat Islam sejak diturunkan ditulis dengan menggunakan
bahasa Arab. Alquran sebagai kitab suci terakhir diturunkan dengan berbahasa
Arab dimaksudkan untuk menjadi petunjuk, bukan saja bagi anggota masyarakat
tempat kitab ini diturunkan, tetapi juga bagi seluruh masyarakat manusia akhir
zaman. Kitab suci umat Islam ini senantiasa dijaga kesucian, kemuliaan dan
orisinalitasnya. Alquran
juga merupakan salah satu sumber hukum Islam yang pertama, membacanya dinilai
ibadah juga diyakini sebagai wahyu dari Allah swt. Alquran adalah kalamullah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara malaikat Jibril
sebagai mukjizat dan berfungsi sebagai hidayah (petunjuk).
Cahaya
Khaeroni menuliskan bahwa mushaf Alquran
yang ada ditangan kita hingga sekarang ternyata telah melalui perjalanan
panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam
dan mempunyai latar belakang sejarah yang panjang.
Di zaman Nabi Muhammad saw, Alquran ditulis pada benda-benda sederhana, seperti
kepingan-kepingan batu, tulang-tulang kulit unta dan pelepah kurma. Tulisan Alquran
ini masih terpencar-pencar dan belum terhimpun dalam sebuah mushaf .
Upaya
pemeliharaan Alquran pada masa Rasulullah mulai dilakukan baik secara hafalan
seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sendiri beserta sahabat, maupun secara
penulisan yang dilakukan oleh para sahabat pilihan atas perintah Rasulullah. Meskipun
demikian, bukan berarti dengan kuatnya hafalan para sahabat dan masyarakat Arab
masa itu, lantas menjadikan Rasulullah luput akan pentingnya baca tulis.
Budaya penulisan Alquran sudah dilakukan bahkan Alquran telah sempurna
penulisannya di zaman ini. Ayat Alquran kemudian dikumpulkan menjadi satu mushaf
memiliki tujuan agar Alquran terselamatkan secara pribadi dan dapat dijadikan
pegangan oleh seluruh muslim lintas generasi.
Pada mulanya mushaf para sahabat yang
berbeda antara satu dengan yang lainnya mereka mencatat wahyu Alquran tanpa
pola penulisan standar, karena umumnya dimaksudkan hanya untuk kebutuhan
pribadi, tidak direncanakan akan diwariskan kepada generasi sesudahnya. Penulisan
ini bertujuan untuk membantu memelihara keutuhan dan kemurnian Alquran.
Pola penulisan Alquran pada masa itu pun berbeda-beda, sehingga timbul
inisiatif untuk penyatuan kaidah penulisan mushaf.
Ilmu rasm
mushaf secara umum meliputi bahasan
tentang sejarah pengumpulan dan penulisan Alquran baik pada masa Nabi, Abu
Bakar, Usman bin Affan, hingga masa penyempurnaan mushaf. Ilmu rasm mushaf
pun membahas tentang kaidah-kaidah penting dalam penulisan mushaf.
Sebagaimana
dalam buku yang berjudul Qawaid al-Imla wa al-Khat, Ibnu Rawandhy menuliskan,
rasm Alquran adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf
Alquran yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya
maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan.
Sedangkan menurut Abd Rahman rasm mushaf merupakan salah satu
cabang dari ilmu Alquran yang sangat penting untuk dibahas karena cara
penulisan rasm dalam Alquran berbeda dengan rasm dalam bahasa
Arab biasa, sehingga seorang penulis diwajibkan memiliki pedoman rasm
agar dalam proses penulisan mushaf Alquran tidak mudah menyalahkan
tulisan Alquran.
Berdasarkan
penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa mushaf Alquran yang ditulis
dengan bahasa Arab telah melalui proses panjang dari sisi historis aksara
Arabnya, sampai pada perbedaan penulisan sejak zaman Nabi dan para sahabat.
Sehingga kaidah rasm Alquran hadir sebagai cabang dari ilmu Alquran yang
dimaksudkan untuk penyeragaman tulisan mushaf Alquran dengan menggunakan
kaidah-kaidah yang telah ditentukan sesuai dengan bidang keilmuannya.
Dalam
ilmu rasm, dikenal dua tokoh utama yang disebut syaikha>ni
atau dua syeikh. Kedua syeikh itu adalah Abu ‘Amar ad-Dani yang telah menulis
buku berjudul Al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsum Mas}ahif Ahl
al-Amsar, dan
Abu Dawud Sulaiman bin Najah yang telah menulis buku Mukhtasar at-Tabyin li
Hija’
at-Tanzi>l. Kedua
tokoh ini terkenal dalam dunia ilmu rasm karena telah memberikan banyak
konstribusi dalam hal penulisan Alquran. Keduanya memiliki hubungan antara guru
dan murid, dan masing-masing memiliki kaidah tersendiri dalam penulisan
Alquran, meski tak jarang ditemukan beberapa kesamaan. Mushaf modern saat ini, seperti Mushaf Madinah Kerajaan Arab
Saudi atau Mushaf Jamahiriyyah Libia,
rata-rata menganut kaidah penulisan keduanya. Dengan melakukan tarjih (kecenderungan pemilihan
dan penggunaan) salah satunya jika ditemukan perbedaan.
Jika
terjadi perbedaan antara keduanya dalam penulisan Alquran, maka ada yang
mentarjih riwayat Abu Daud sebagaimana “Mushaf Madinah an-Nabawiyah” yang
diterbitkan oleh Mujamma’ al-Malik Fahd, Saudi Arabia. Akan halnya dengan mushaf
yang diterbitkan di Libya yang menggunakan qira’at nafi’ riwayat Qalun,
maka yang dipakai adalah riwayat ad-Dani sebagaimana dituangkan dalam kitab al-Muqni
fi Mashahif al-Amshar.
Dalam
kajian ini, penyusun memfokuskan pada tokoh Abu Amar ad-Dani dan konstribusinya
dalam perletakkan kaidah rasm mushaf itu sendiri. Sehingga menghadirkan beberapa
rumusan masalah diantaranya: (1) Apa yang dimaksud dengan rasm mushaf?
(2) Bagaimana bentuk perletakkan kaidah rasm mushaf? (3) Siapakah tokoh Abu
Amar ad-Dani? (4) Apa konstribusi Abu Amar ad-Dani dalam perletakkan kaidah rasm mushaf?.
Adapun tujuan dalam penelitian adalah: (1) Untuk mengetahui pengertian dari rasm
mushaf. (2) Untuk mengetahui bentuk perletakkan kaidah rasm mushaf. (3)
Untuk mengetahui biografi Abu Amar ad-Dani. (4) Untuk mengetahui konstribusi
Abu Amar ad-Dani dalam perletakkan kaidah mushaf.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Rasm Mushaf
Zaenal
Arifin Madzkur dalam jurnalnya yang berjudul “Urgensi Rasm Usmani” menuliskan rasm
secara etimologi berarti, الاثر yang bermakna bekas,
peninggalan. Dalam perbendaharaan bahasa Arab, memiliki beberapa sinonim,
seperti, الزبور, الرسم, الخط dan السطر yang
semuanya memiliki arti yang sama yaitu tulisan.
Rasm berasal dari kata رسم -
يرسم - رسما artinya menggambar atau
melukis. Kata rasm ini juga biasa diartikan sebagai sesuatu yang resmi
atau menurut aturan. Rasimul Quran dikenal juga dengan sebutan rasm
Us\mani. Rasm Us\mani pula diartikan sebagai ilmu yang membincangkan kaidah
penulisan kalimat-kalimat ayat Alquran yang digunakan dan dipersetujui
oleh Khalifah Utsman ketika proses penyalinan dan penulisan Alquran
dilakukan.
Rasm mushaf
terdiri atas 3 macam:
a. Rasm Us\mani
Rasm mushaf merupakan pola
penulisan Alquran yang lebih menitik beratkan pada metode tertentu yang
digunakan pada waktu kodifikasi mushaf pada zaman khalifah Utsman bin
Affan yang dipercayakan kepada Zaid bin Tsabit. Penulisan rasm ini
dibuat berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh para ulama rasm (tulisan)
dari pada mushaf-mushaf yang telah dihantar oleh khlaifah Utsman
r.a ke kota Basrah, Kufah, Syam, Makkah dan Madinah termasuklah yang
diperuntukkan khas bagi rujukan Khalifah di kota Madinah.
Ilmu rasm ialah satu ilmu yang membincangkan cara menulis
lafaz-lafaz atau sebutan untuk memelihara penyebutan huruf-hurufnya dari segi
lafaz, huruf-huruf asal dan ilmu yang membahaskan kaedah menambah, mengurang,
menyambung, memisah dan menggantikan huruf. Penulisan (rasm) Alquran ini
adalah satu sunnah Rasulullah saw yang diikuti secara ijma’
(kesepakatan) oleh seluruh ulama mujtahidi>n karena tulisan ini
adalah bentuk s\uqifiyyah dan ia dibuat di bawah pengawasan Nabi
Muhammad saw.
Dalam kitab Al-Muhit} Al-Burhani>, kitab fiqh
Al-Hanafiyyah terdapat pernyataan:
إ
نه ينبغي أن لا يكتب المصحف بِغَيْرِ الرَّسْمِ العُثْمَان
“sesungguhnya
tidak di perkenankan menulis mushaf, kecuali dengan rasm Us\mani.”
Jumhur
ulama berpendapat bahwa pola rasm Us\mani bersifat dengan alasan bahwa
para penulis wahyu adalah sahabat-sahabat yang ditunjuk dan dipercayai Nabi
saw. Pola penulisan tersebut bukan merupakan ijtihad para sahabat Nabi,
dan para sahabat tidak mungkin melakukan kesepakatan (ijma) dalam
hal-hal yang bertentangan dengan kehendak dan restu Nabi terdapat sekelompok
ulama berpendapat lain, bahwa pola penulisan di dalam Rasm Utsmani tidak
bersifat taufiqi,tetapi hanya ijtihad para sahabat.
b. Rasm ’Arudi
Rasm ’Arudi ialah cara menuliskan
kalimat-kalimat Arab disesuaikan dengan wazan sya’ir-sya’ir Arab. Hal itu dilakukan untuk
mengetahui “Bahr” (nama macam sya’ir) dari syair tersebut contohnya
seperti: وليل كموج البحر ار خي سدو له sepotong syair Imri’il qais tersebut jika ditulis akan
berbentuk: وليل كموج البح ر
ار خي سدو لهو sesuai
dengan فعو لن مفا عيلن فعولن مفا علين sebagai timbangan syair yang
mempunyai “bahar tanwil.”
c. Rasm
Qiya>si/Imla’i
Daud Ismail dalam jurnalnya menuliskan bahwa
mushaf Imla’i adalah salah satu versi Alquran yang ditulis berdasarkan
tulisan Arab Standar. Mushaf Imla’i merupakan versi mushaf
Alquran yang ditulis berasaskan kaidah penulisan bahasa Arab biasa yang
dipanggil rasm Imla’i atau rasm Qiyasi.
Struktur kalimat Alquran (rasm) dan tanda-tanda (dabt) dalam mushaf
imla’i didapati berbeda dengan mushaf Us\mani.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa Alquran dengan Imla’i dapat dibenarkan, tetapi
khusus bagi orang awam. Bagi para ulama atau yang memahami rasm Us\mani
tetap wajib mempertahankan keaslian rasm Us\mani.
Rasm Imla’i secara berleluasa telah
menimbulkan beberapa implikasi, khususnya apabila melibatkan penulisan mushaf.
Justru itu, para ulama bahasa telah mengambil inisiatif untuk menyusun semula
kaidah penulisan bahas Arab versi rasm Imla’i. Usaha ini dilakukan
supaya terwujudnya perbedaan yang jelas antara rasm Imla’i dan rasm Us\mani.
Miga Mutiara dalam skripsinya menuliskan contoh
dari rasm Imla’i adalah lafaz (انا) ditulis
dengan (انا) walaupun jika
dilanjutkan Alifnya hilang seperti (انا نذير ). Begitu
juga dengan hamzah wasal seperti (جاء الحق ) tetap
harus ditulis, walaupun tidak diucapkan pada waktu ia berada di tengah kalimat,
sebab jika dimulai dari awal kalimat maka diucapkan (الحق جاء ).
2.
Kaidah Rasm Mushaf
Adapun
pola penulisan mushaf Us\mani para ulama meringkas kaidah-kaidah itu
menjadi 6 istilah, yaitu:
a. al-Haz\f (membuang, menghilangkan, atau meniadakan
huruf). Contohnya, menghilangkan huruf alif pada ya` nida’,
dan tanbih, contoh: العلمين ،الحفظين,هؤلآء .
Penghilangan ini bertujuan untuk mengisyaratkan adanya bacaan lain dan
meringkas tulisan.
b. al-Ziya>dah
(penambahan),
seperti menambahkan huruf alif setelah wawu atau yang mempunyai
hukum jama’ dan menambah alif setelah hamzah marsumah
(hamzah yang terletak di atas tulisan wawu) contoh : ملاقواربهم .
c. al-hamzah, salah satu kaidahnya
berbunyi bahwa apabila hamzah berharakat sukun, terkadang ditulis
dalam bentuk waw dan ya’. Contoh: يؤمنون.
d. Badal (penggantian), pergantian huruf dalam ilmu rasm us\mani
ada tiga macam, yaitu penulisan alif yang berasal dari ya,
penulisan alif yang berasal dari waw, sebagaimana dalam contoh: الصلوة.
e. Was}al
dan fas}al (penyambungan
dan pemisahan), seperti kata ‘an yang di iringi kata ma ditulis
dengan disambung, contoh: عمّا. Juga
kata aina dipisah dengan ma> contoh: أينما.
f.
Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Penulis kata
yang dapat dibaca dua bunyi disesuaikan dengan salah satu bunyinya. Di
dalam mushaf Us\mani, penulisan kata semacam itu di tulis dengan
menghilangkan alif, contoh ووصى bisa
juga dibaca واوصى karena ditulis sesuai qira’atnya.
3.
Biografi Abu Amar al-Dani
Abu
Amar al-Dani nama lengkapnya adalah Usman Bin Said bin Usman bin Amr Abu Amr
al-Dani. Sebutan al-Dani yang melekat pada dirinya merupakan nisbat kepada
tanah kelahirannya, yaitu sebuah kota kecil di Andalusia (Spanyol bagian
selatan) bernama al-Daniyyah dibawah
kekhalifahan Daulah Umayyah di Cordoba saat itu atau sekitar tahun (371-444
H/981-1053 M). Jika melihat tahunnya, maka ad-Dani hidup sekitar Daulah Umayyah
dari Hisyam II sampai Hisyam III.
Imam
Abu Amar ad-Dani pada zamannya dikenal dengan nama S}airafi al-Maliki,
yang merupakan syaikh dari para masyayikh qori. Sedangkan pada masa sekarang
lebih masyhur sebagai ad-Dani. Beliau orang yang cerdas, kuat hafalannya, hafal
Alquan, juga belajar semua disiplin ilmu agama, dari Alquran dengan segala
disiplin ilmunya, juga ilmu-ilmu hadis.
Ada
perbedaan pendapat para ahli, Ibnu Baksoel dalam Ashilah mengatakan
bahwa beliau lahir tahun 371 H sebagaimana Imam Adz-Dzahabi dalam Syi’ar
A’lam An-Nubala dan imam Al-Jazari, dalam An-Nasyr fi Al-Qira’at
Al-‘Asyr, dan Ghoyatunnihayah, sedangkan Abu Abdullah Yaqut
Al-Hamawi dalam Mu’jam Al-Udaba mengatakan beliau lahir 372 H di
Addaniyah Andalusia. Beliau mencari ilmu ke seluruh wilayah Andalusia, kemudian tahun 398 H beliau pergi
ke Qoiruwan Tunisia, dan kemudian ke wilayah Mesir, Mekkah Madinah dan kota
lainnya (Masyriq). Pada tahun 398 H kembali ke Andalusia hingga wafat di
Daniyah. Al-Dani wafat pada hari senin pertengahan bulan Syawal tahun 444
hijriah dan dikebumikan di Daniyah.
Imam
al-Dani hidup dalam masa abad 4-5 Hijriyah (seperempat akhir masa waktu abad ke
empat dan masuk abad ke 5), dimana saat itu masa bergejolaknya politik Islam
dari barat sampai timur Arab. Pada masa itu dari sisi keilmuan merupakan masa
keemas an perkembangan ilmu pengetahuan (Masa Daulah Umayyah).
a.
Murid-murid Abu Amar al-Dani
Selain banyaknya guru yang menjadi
sumber keilmuan beliau, banyak pula tokoh-tokoh Islam terkemuka yang lahir dari
majelis ilmu pimpinan beliau. Para ulama menjadikan al-Dani sebagai sumber
rujukan apabila menemukan perbedaan. Dari sekian banyak muridnya yang terkenal
adalah Abu Sulaiman ibn Najah yang telah mengarang sebuah buku dalam cabang
ilmu rasm Us\mani dengan judul at-Tanzi>l fil al-Rasm.
Abu Sulaiman ibn Najah mempunyai seorang murid bernama ‘Ali ibn Hudzail yang
darinya belajar seseorang yang nantinya menjadi ahli qiraat terkemuka pula, ia
adalah al-Qasim al-Syathibi.
Murid-murid Imam Abu Amar al-Dani
lainnya yang tidak kalah terkenal antara lain, Ibrahim bin Khalaf bin Muawiyah, Ibnu
al-Bayyaz dan Ahmad Abd al-Malik ibn Abi Hamzah Tercatat pula tokoh lain yang
sempat menimba ilmu kepada al-Dani wafat. Tercatat pula pula tokoh lain yang
sempat menimba ilmu kepada al-Dani diantaranya, Abdullah ibn Sahaa al-Anshari,
al-‘Ash ibn Khalaf Abu Bakar al-Isybili pengarang kitab al-Taz\kirah wa
al-Tahz\i>b, Muhammad ibn ‘Isa ibn al-Farq al-Maghami, juga Muhammad ibn
Ibrahim ibn Ilyas yang lebih dikenal dengan ibn Syu’aib.
b.
Karya-karya Abu Amar al-Dani
Ad-dzahabi
(w. 784 H) menyebutkan banyak kitab yang telah ditulis oleh Abu Amar al-Dani,
kitab itu antara lain: Jami’ al-Bayan fi as-Sab’i, at-Taisir , al-Iqtis}ad
fi Qira’at Warasi>, ijaz al-Baya>n fi Qira’at
as-Syawaz\, at-Talkis}, al-Muqni’ fi ar-Rasm, al-Muhtawa fi Qira’at as-Syawaz\,
thabaqat al-Qurra’, al-Arjuzah fi
Us}ul ad-Diyanah, al-Waqf wa al-Ibtida’, al-’Adad, At-Tahmi>d fi Harf an-Nafi’, al-Lamat wa ar-Ra’at,
al-Fitan al-Kainah, al-Hamzatain, al-Ya’at, al-Imalah dan masih banyak lagi.
4.
Konstribusi Abu Amar ad-Dani dalam Perletakkan Kaidah Rasm Mushaf
a. al-Haz\f dan Isbat
Dalam
salah satu kitabnya, Imam Abu Amar al-Dani menuliskan bahwa penghilangan atau
haz\f dalam mushaf terdiri atas lima huruf yaitu alif, waw, ya’,nun dan
lam, tetapi lebih banyak penghilangan pada tiga tempat yaitu, alif,waw
dan ya’.
Tabel 4.1.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-Baqarah
: 21
|
$pkr'¯»t â¨$¨Y9$#
|
Haz\f
alif pada ya’ nida
|
2
|
al-A’raf
: 77
|
ßxÎ=»|Á»t
|
Haz\f alif pada ya’ nida
|
3
|
Hud
:44
|
ÞÚör'¯»t
|
Haz\f
alif pada ya’ nida
|
4
|
Yusuf
: 84
|
4s"yr'¯»t ô
|
Haz\f
alif pada ya’ nida
|
5
|
Maryam
: 28
|
M÷zé'¯»t
|
|
Tabel 4.2.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-Baqarah
: 31
|
äIwàs¯»yd
|
Haz\f
alif setelah ha’ li tanbih
|
2
|
al-Baqarah
: 35
|
ÍnÉ»yd
|
Haz\f alif setelah ha’ li tanbih
|
3
|
Ali
imran : 66
|
÷LäêRr'¯»yd
|
Haz\f alif setelah ha’ li tanbih
|
4
|
al-Qasas
: 27
|
Èû÷ütG»yd
|
Haz\f alif setelah ha’ li tanbih
|
5
|
al-Naml
: 42
|
#xs3»ydr&
|
Haz\f alif setelah ha’ li tanbih
|
Tabel 4.3.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-Fatihah
: 4
|
Å7Î=»tB
|
Haz\f
alif
|
2
|
al-Baqarah
: 2
|
Ü=»tGÅ6ø9$#
|
|
3
|
al-Baqarah
:151
|
!$oYÏG»t#uä
|
Haz\f
alif
|
4
|
al-A’raf
: 112
|
@Ås»y 8
|
|
5
|
Hud :
16
|
y×@ÏÜ»t/ur
|
Haz\f alif
|
6
|
al-Ma’arij
: 40
|
É-Ì»t±pRùQ$# É>Ì»tópRùQ$#ur t
|
Haz\f alif
|
Dari tabel 4.3 diatas, Imam Abu Amar al-Dani menghaz\f alif
pada beberapa tempat. Misalnya menghaz\f alif pada surat
al-Baqarah ayat 2 kecuali pada empat tempat yaitu surat al-Ra’d ayat 38,
al-Hijr ayat 4, al-Kahfi ayat 27 dan an-Naml ayat 1. Selanjutnya menghaz\f
alif pada surah al-baqarah ayat 151 kecuali pada dua tempat yaitu surat
Yunus ayat 15 dan 21, ditulis dengan isbat alif. Lalu pada dalam surat
al-A’raf ayat 112 menghaz\f alif kecuali dalam surat adz-Dzariyat
ayat 52. Imam
Abu Amar al-Dani menghaz\f alif pada lafaz @ÏÜ»t/u di
atas kecuali pada surat al-Baqarah ayat 42 dan 188 dan surat Ali imran ayat 71
dan 191. Beliau juga mengis\bat alif pada kedua lafaz dalam surat al-Ma’arij
tersebut kecuali pada surat al-A’arah ayat 137 dan as-Shaffat ayat 5. kaidah
ini mengikuti kaidah rasm us\mani yakni dengan menghaz\f Alif apabila berbentuk
jamak dengan wazan مفاعل atau yang mnyerupai.
Tabel 4.4.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-Baqarah
: 6
|
(#rãxÿx.
|
Is\bat alif setelah waw jama’
|
2
|
al-Baqarah
: 9
|
(#qãZtB#uä
|
Is\bat
alif setelah waw jama’
|
3
|
al-Taubah
: 67
|
4 (#qÝ¡nS ©!$#
|
Is\bat
alif setelah waw jama’
|
4
|
al-Furqan
: 14
|
(#qãã÷$#ur
|
Is\bat
alif setelah waw jama’
|
5
|
al-Rum
: 10
|
(#q䫯»yr&
|
Is\bat alif setelah waw jama’
|
Tabel
4.5.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-Baqarah
: 61
|
ÏM»t$t«Î/ «
|
Is\bat ya’
|
2
|
al-An’am
: 21
|
ôÿ¾ÏmÏG»t$t«Î/
|
|
3
|
Ali
imran : 20
|
4 z`¿ÍhÏiBW{$#ur
|
Haz\f
ya’
|
4
|
Ali
imran : 79
|
ªz`¿ÍhÏY»/u
|
Haz\f
ya’
|
5
|
al-Maidah
: 111
|
z`¿ÎiÍ#uqysø9$# ÷
|
|
Dalam
kaidah is\bat ya’ pada kedua lafaz di atas, tidak hanya disetujui Imam
Abu Amar ad-Dani, tetapi juga Imam Abu Dawud atau lebih dikenal dengan syaikha>ni.
Adapun untuk haz\f ya’ pada katiga lafaz di atas bertujuan untuk
meringkas dan is\bat ya’ asal.
b.
al-Ziya>dah
Tabel 4.6.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-Baqarah
: 23
|
(#qè?ù'sù ;ouqÝ¡Î/
|
Ziyadah alif setelah huruf waw
|
2
|
al-Baqarah
: 189
|
3(#qè?ù&ur Vqãç7ø9$# ô
|
Ziyadah alif setelah huruf waw
|
3
|
al-Thalaq
: 6
|
4(#rãÏJs?ù&ur /ä3uZ÷t/ 7
|
Ziyadah alif setelah huruf waw
|
4
|
Thaha
: 64
|
(#qçGø$# $yÿ|¹ 4 ô
|
Ziyadah
alif setelah huruf waw
|
5
|
Yusuf
: 50
|
tÎTqçGø$# ¾ÏmÎ/ (
|
|
6
|
Yusuf
: 59
|
ÎTqçGø$# 8r'Î/
|
Ziyadah ya’
|
c.
al-Hamzah
Tabel 4.7.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-A’raf
:163
|
öNßgù=t«óur Ç`tã Ïptös)ø9$#
|
Penulisan hamzah dalam bentuk
ya’
|
2
|
Yunus
: 94
|
È@t«ó¡sù úïÏ%©!$#
|
Penulisan hamzah dalam bentuk ya’
|
3
|
Yusuf
: 82
|
È@t«óur sptös)ø9$#
|
Penulisan
hamzah dalam bentuk ya’
|
4
|
an-Nahl
: 43
|
(#þqè=t«ó¡sù @÷dr& Ìø.Ïe%!$#
|
Penulisan
hamzah dalam bentuk ya’
|
5
|
al-Anbiya
: 63
|
öNèdqè=t«ó¡sù
|
Penulisan hamzah dalam bentuk
ya’
|
Tabel 4.8.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
Ali
Imran : 87
|
öNèdät!#ty_
|
Penulisan hamzah dalam bentuk
waw
|
2
|
An-Nisa
: 11
|
ÿöNä.ät!$t/#uä
|
Penulisan hamzah dalam bentuk
waw
|
3
|
an-Nisa
: 93
|
¼çnät!#tyfsù Þ
|
Penulisan hamzah dalam bentuk
waw
|
4
|
al-An’am
: 87
|
ô`ÏBur óOÎgͬ!$t/#uä ö
|
Penulisan hamzah dalam bentuk
ya’
|
5
|
al-Ahzab
: 6
|
ö#n<Î) Nä3ͬ!$uÏ9÷rr&
|
Penulisan hamzah dalam bentuk
ya’
|
Menurut pandangan Imam Abu Amar al-Dani untuk perletakkan hamzah
setelah alif, bersambung dengannya d}ami>r. Jika dalam bentuk d}amah,
maka penulisan hamzah dalam bentuk waw, jika dalam bentuk kasrah
dalam bentuk ya’ sebagaimana gambar di atas.
d.
al-Badal
Tabel 4.8.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
al-Baqarah
: 85
|
§Ío4quysø9$#
|
Alif
diganti dengan waw
|
2
|
al-Baqarah
: 275
|
È(#4qt/Ìh9$# 3
|
Alif diganti
dengan waw
|
3
|
al-Kahfi
: 28
|
Ío4rytóø9$$Î/
|
Alif
diganti dengan waw
|
4
|
an-Nur
: 35
|
;o4qs3ô±ÏJx.
|
Alif
diganti dengan waw
|
5
|
al-Mu’min
: 41
|
Ío4qyf¨Z9$# û
|
|
e.
al-Fas}l wa al-Was}l
Tabel 4.9.
No
|
Surah
/ ayat
|
Lafaz
|
Keterangan
|
1
|
Hud :
14
|
óO©9Î*sù (#qç7ÉftFó¡o
|
|
2
|
an-Nur
: 43
|
`tã `¨B âä!$t±o (
ß
|
|
3
|
an-Najm
: 29
|
ó`tã `¨B 4¯<uqs?
|
al-fas}l
|
4
|
an-Naba
:1
|
§Ntã tbqä9uä!$|¡tFt
|
al-was}l
|
Berdasarkan tabel 4.9. di atas terlihat bahwa ada beberapa lafaz
dalam Alquran yang disambung juga ada yang dipisah. Hal ini juga termasuk
kesepakatan syaikha>ni ada yang sama namun ada juga yang berbeda.
C.
KESIMPULAN
Berdasarkan
pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.
Rasm mushaf yang juga dikenal dengan rasm us\mani
merupakan kaidah penulisan kalimat-kalimat ayat Alquran yang lebih menitik
beratkan pada metode tertentu digunakan dan dipersetujui oleh khalifah Utsman. Penulisan
rasm ini dibuat berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh para ulama rasm
(tulisan). Rasm mushaf terdiri atas, rasm Us\mani, rasm ‘Arudi
dan rasm Imla’i.
2.
Bentuk-bentuk perletakkan kaidah rasm mushaf
terdiri dari:
a.
al-Haz\f
(membuang
atau menghilangkan huruf) contohnya, العلمين .
b.
al-Ziyadah (penambahan) contohnya, ملاقواربهم.
c.
al-hamzah (penulisan hamzah) contohnya, يؤمنون.
d.
Badal
(penggantian), contohnya, الصلوة.
e.
Was}al dan fas}al (penyambungan dan pemisahan),
contohnya, عمّا.
f.
Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Contohnya ووصى dan واوصى .
3. Abu Amar al-Dani memiliki nama lengkap
Usman Bin Said bin Usman bin Amr Abu Amr al-Dani lahir sekitar tahun (371-444
H/981-1053 M). Sebutan al-Dani yang melekat pada dirinya merupakan nisbat
kepada tanah kelahirannya, yaitu sebuah kota kecil di Andalusia bernama
al-Daniyyah. Banyak guru yang menjadi sumber keilmuan beliau dan banyak pula tokoh-tokoh
Islam terkemuka yang lahir dari majelis ilmu pimpinan beliau. Semasa hidup
banyak memberikan konstribusi bagi umat berupa kitab-kitab yang ditulis salah
satunya kitab “al-Muqni’
fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r “yang membahas
tentang kaidah rasm mushaf.
4. Abu Amar
al-Dani telah banyak berkonstribusi dalam perletakkan kaidah rasm
mushaf. Sebagaimana dalam kitab beliau yang berjudul “al-Muqni’ fi
Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r “ yang
membahas tentang kaidah rasm mushaf. Didalamnya memuat banyak pola dan
pandangan baik yang terkait dengan haz\f dan isbat
(penghilangan dan penetapan huruf), ziya>dah (penambahan), penulisan hamzah,
badal (pengganti), was}l dan fas}l (penyambungan dan
pemisahan huruf), dan lainnya. Tulisan ini dapat bermanfaat untuk menambah
wawasan keilmuan tentang ilmu rasm mushaf, para tokoh dan konstribusi
para ulama rasm didalamnya.