Selasa, 12 Mei 2020

NUN FIRDAUS : Sebaik-baik Teman Yang Terlupakan


“SEBAIK-BAIK TEMAN YANG TERLUPAKAN”
(13 Mei 2020)



Sepenggal kisah biar kutuliskan di sini saja. Tak panjang biar teman-teman tak bosan membaca. Kalau ingin mampir, tidak juga Alhamdulillah.

Kisah tentang sebaik-baik teman yang terlupakan. Ingin kuceritakan lewat tulisan yang kuharap masih ada yang minat. Memiliki teman menurutku adalah sebuah keharusan, karena akan saling membutuhkan pada hari-hari kemudian. Hingga detik ini, hari ini pun masih menjangkau kabar. Lewat doa kuberharap mereka tetap sehat wal’afiat.
Bangga punya banyak teman, gak di dunia nyata eh tau-taunya dunia maya juga ikutan. Kenapa gak? Aku sadar ini hanyalah sebuah fasilitas. Sebut saja jembatan panjang dan bisa lebih panjang dari usiaku yang terbatas. Sehingga aku tak bisa memberikan mereka apa-apa, kecuali kasih sayang juga ketulusan meski kadang-kadang ada yang menyakitkan. Entah dari aku atau teman-temanku memang tak ada yang sempurna. Aku hanya bisa berusaha lebih giat untuk mampu memahami juga mengerti agar pertemanan ini bisa terjaga dan terus bersaudara.
Senang punya banyak teman-teman yang baik, namun rasanya aku cukup egois. Tak menghiraukan teman yang satu ini, sepertinya aku hilang kendali. Banyak di dunia ini, namun takkan setia sampai nafasku kapan saja berhenti. Dia adalah Amal. Teman-temanku pasti kenal dia. Yang akan setia menemani kita sampai alam selanjutnya.
Dia paling setia. Tapi aku gak akan pernah tau aslinya sampai akhirnya bersama. Satu hal yang kuyakini. Sebaik-baik teman adalah yang menunjukkan pada kebaikan dan aku pun turut mengikuti kebaikannya. Aku sadar banyak teman yang kumiliki di dunia bukanlah soal kuantitas. Bermodal ikhlas, aku harap bisa mengambil pelajaran dari teman-teman dan bisa kukenali dia lebih dekat. Kuharap kebaikan-kebaikan itu segera menular. Karena aku pun takut merasa sendirian. Jika hari ini ia terlupakan.

#1

Minggu, 10 Mei 2020

ARTIKEL AL-KHAT WA QAWAID AL-IMLA : Konstribusi Abu Amar Al-Dani Dalam Perletakkan Kaidah Rasm Mushaf


KONSTRIBUSI ABU AMAR AL-DANI DALAM PERLETAKKAN
QAIDAH RASM MUSHAF
Nurain Apriliani Kantu
Sri Elvina Madjid

Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo
Abstrak
Keberagaman dalam cara membaca Alquran sejak masa Khalifah Utsman bin Affan menjadi kekhawatiran utama pada masa itu. Keberagaman ini disebabkan adanya perbedaan dialek antar suku yang berbeda-beda. Hal ini menjadi awal lahirnya kebijakan  istilah cara penulisan (rasm) yang merupakan salah satu cabang ilmu Alquran. Rasm Us\mani adalah standar yang dijadikan dalam penulisan mushaf Alquran. Penulisan dengan pola standarisasi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perselisihan antar umat di generasi selanjutnya.
Ada banyak tokoh yang turut berkonstribusi dalam penulisan mushaf Alquran. Imam Abu Amar al-Dani merupakan salah satu tokoh terkenal dalam perletakkan kaidah penulisan (rasm) mushaf Alquran. Sehingga, dalam kajian ini penulis bertujuan untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang kaidah rasm mushaf, mengenal sosok Imam Abu Amar al-Dani serta konstribusi beliau dalam perletakkan pola rasm mushaf.
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunan tulisan ini bersifat kajian pustaka, mengumpulkan berbagai sumber yang berkaitan dengan kaidah rasm mushaf melalui buku-buku yang tersedia juga beberapa jurnal yang dikutip. Data-data yang dikumpulkan telah diklasifikasikan kemudian diberi simpulan pada beberapa kategori.
 Hasil menunjukkan bahwa konstribusi Imam Abu Amar al-Dani dalam perletakkan kaidah rasm mushaf terbilang cukup banyak. Baik dari segi haz\f  dan isbat (penghilangan dan penetapan huruf), ziyadah (penambahan), penulisan hamzah, badal, was}al dan fas}al (penyambungan dan pemisahan huruf), dan lainnya. Tulisan ini diharapkan mampu menambah khasanah imu pengetahuan bagi penulis dan para pembaca tentang ilmu rasm mushaf.
Kata kunci : Konstribusi, Rasm, Mushaf

A.   PENDAHULUAN
Mushaf Alquran yang merupakan kitab umat Islam sejak diturunkan ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Alquran sebagai kitab suci terakhir diturunkan dengan berbahasa Arab dimaksudkan untuk menjadi petunjuk, bukan saja bagi anggota masyarakat tempat kitab ini diturunkan, tetapi juga bagi seluruh masyarakat manusia akhir zaman. Kitab suci umat Islam ini senantiasa dijaga kesucian, kemuliaan dan orisinalitasnya.[1] Alquran juga merupakan salah satu sumber hukum Islam yang pertama, membacanya dinilai ibadah juga diyakini sebagai wahyu dari Allah swt. Alquran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara malaikat Jibril sebagai mukjizat dan berfungsi sebagai hidayah (petunjuk).
Cahaya Khaeroni menuliskan bahwa mushaf  Alquran yang ada ditangan kita hingga sekarang ternyata telah melalui perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang panjang.[2] Di zaman Nabi Muhammad saw, Alquran ditulis pada benda-benda sederhana, seperti kepingan-kepingan batu, tulang-tulang kulit unta dan pelepah kurma. Tulisan Alquran ini masih terpencar-pencar dan belum terhimpun dalam sebuah mushaf .
Upaya pemeliharaan Alquran pada masa Rasulullah mulai dilakukan baik secara hafalan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah sendiri beserta sahabat, maupun secara penulisan yang dilakukan oleh para sahabat pilihan atas perintah Rasulullah. Meskipun demikian, bukan berarti dengan kuatnya hafalan para sahabat dan masyarakat Arab masa itu, lantas menjadikan Rasulullah luput akan pentingnya baca tulis.[3] Budaya penulisan Alquran sudah dilakukan bahkan Alquran telah sempurna penulisannya di zaman ini. Ayat Alquran kemudian dikumpulkan menjadi satu mushaf memiliki tujuan agar Alquran terselamatkan secara pribadi dan dapat dijadikan pegangan oleh seluruh muslim lintas generasi.
Pada mulanya mushaf para sahabat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya mereka mencatat wahyu Alquran tanpa pola penulisan standar, karena umumnya dimaksudkan hanya untuk kebutuhan pribadi, tidak direncanakan akan diwariskan kepada generasi sesudahnya. Penulisan ini bertujuan untuk membantu memelihara keutuhan dan kemurnian Alquran.[4] Pola penulisan Alquran pada masa itu pun berbeda-beda, sehingga timbul inisiatif untuk penyatuan kaidah penulisan mushaf.
Ilmu rasm mushaf  secara umum meliputi bahasan tentang sejarah pengumpulan dan penulisan Alquran baik pada masa Nabi, Abu Bakar, Usman bin Affan, hingga masa penyempurnaan mushaf. Ilmu rasm mushaf pun membahas tentang kaidah-kaidah penting dalam penulisan mushaf.[5]
Sebagaimana dalam buku yang berjudul Qawaid al-Imla wa al-Khat, Ibnu Rawandhy menuliskan, rasm Alquran adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf Alquran yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan.[6] Sedangkan menurut Abd Rahman rasm mushaf merupakan salah satu cabang dari ilmu Alquran yang sangat penting untuk dibahas karena cara penulisan rasm dalam Alquran berbeda dengan rasm dalam bahasa Arab biasa, sehingga seorang penulis diwajibkan memiliki pedoman rasm agar dalam proses penulisan mushaf Alquran tidak mudah menyalahkan tulisan Alquran.[7]
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa mushaf Alquran yang ditulis dengan bahasa Arab telah melalui proses panjang dari sisi historis aksara Arabnya, sampai pada perbedaan penulisan sejak zaman Nabi dan para sahabat. Sehingga kaidah rasm Alquran hadir sebagai cabang dari ilmu Alquran yang dimaksudkan untuk penyeragaman tulisan mushaf Alquran dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah ditentukan sesuai dengan bidang keilmuannya.
Dalam ilmu rasm, dikenal dua tokoh utama yang disebut syaikha>ni atau dua syeikh. Kedua syeikh itu adalah Abu ‘Amar ad-Dani yang telah menulis buku berjudul Al-Muqni fi Marifati Marsum Mas}ahif Ahl al-Amsar, dan Abu Dawud Sulaiman bin Najah yang telah menulis buku Mukhtasar at-Tabyin li Hija at-Tanzi>l. Kedua tokoh ini terkenal dalam dunia ilmu rasm karena telah memberikan banyak konstribusi dalam hal penulisan Alquran. Keduanya memiliki hubungan antara guru dan murid, dan masing-masing memiliki kaidah tersendiri dalam penulisan Alquran, meski tak jarang ditemukan beberapa kesamaan. Mushaf modern saat ini, seperti Mushaf Madinah Kerajaan Arab Saudi atau Mushaf Jamahiriyyah Libia, rata-rata menganut kaidah penulisan keduanya. Dengan melakukan tarjih (kecenderungan pemilihan dan penggunaan) salah satunya jika ditemukan perbedaan.
 Jika terjadi perbedaan antara keduanya dalam penulisan Alquran, maka ada yang mentarjih riwayat Abu Daud sebagaimana “Mushaf Madinah an-Nabawiyah” yang diterbitkan oleh Mujamma’ al-Malik Fahd, Saudi Arabia. Akan halnya dengan mushaf yang diterbitkan di Libya yang menggunakan qira’at nafi’ riwayat Qalun, maka yang dipakai adalah riwayat ad-Dani sebagaimana dituangkan dalam kitab al-Muqni fi Mashahif al-Amshar.
Dalam kajian ini, penyusun memfokuskan pada tokoh Abu Amar ad-Dani dan konstribusinya dalam perletakkan kaidah rasm mushaf  itu sendiri. Sehingga menghadirkan beberapa rumusan masalah diantaranya: (1) Apa yang dimaksud dengan rasm mushaf? (2) Bagaimana bentuk perletakkan kaidah rasm mushaf? (3) Siapakah tokoh Abu Amar ad-Dani? (4) Apa konstribusi Abu Amar ad-Dani  dalam perletakkan kaidah rasm mushaf?. Adapun tujuan dalam penelitian adalah: (1) Untuk mengetahui pengertian dari rasm mushaf. (2) Untuk mengetahui bentuk perletakkan kaidah rasm mushaf. (3) Untuk mengetahui biografi Abu Amar ad-Dani. (4) Untuk mengetahui konstribusi Abu Amar ad-Dani dalam perletakkan kaidah mushaf.

B.   PEMBAHASAN
1.    Pengertian Rasm Mushaf
Zaenal Arifin Madzkur dalam jurnalnya yang berjudul “Urgensi Rasm Usmani” menuliskan rasm secara etimologi berarti, الاثر yang bermakna bekas, peninggalan. Dalam perbendaharaan bahasa Arab, memiliki beberapa sinonim, seperti, الزبور, الرسم, الخط dan السطر yang semuanya memiliki arti yang sama yaitu tulisan.[8] Rasm berasal dari kata رسم -  يرسم - رسما  artinya menggambar atau melukis. Kata rasm ini juga biasa diartikan sebagai sesuatu yang resmi atau menurut aturan. Rasimul Quran dikenal juga dengan sebutan rasm Us\mani. Rasm Us\mani pula diartikan sebagai ilmu yang membincangkan kaidah penulisan kalimat-kalimat ayat Alquran yang digunakan dan dipersetujui oleh Khalifah Utsman ketika proses penyalinan dan penulisan Alquran dilakukan.[9]
Rasm mushaf terdiri atas 3 macam:
a.    Rasm Us\mani
Rasm mushaf merupakan pola penulisan Alquran yang lebih menitik beratkan pada metode tertentu yang digunakan pada waktu kodifikasi mushaf pada zaman khalifah Utsman bin Affan yang dipercayakan kepada Zaid bin Tsabit. Penulisan rasm ini dibuat berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh para ulama rasm (tulisan) dari pada mushaf-mushaf yang telah dihantar oleh khlaifah Utsman r.a ke kota Basrah, Kufah, Syam, Makkah dan Madinah termasuklah yang diperuntukkan khas bagi rujukan Khalifah di kota Madinah.
Ilmu rasm ialah satu ilmu yang membincangkan cara menulis lafaz-lafaz atau sebutan untuk memelihara penyebutan huruf-hurufnya dari segi lafaz, huruf-huruf asal dan ilmu yang membahaskan kaedah menambah, mengurang, menyambung, memisah dan menggantikan huruf. Penulisan (rasm) Alquran ini adalah satu sunnah Rasulullah saw yang diikuti secara ijma’ (kesepakatan) oleh seluruh ulama mujtahidi>n karena tulisan ini adalah bentuk s\uqifiyyah dan ia dibuat di bawah pengawasan Nabi Muhammad saw.
Dalam kitab Al-Muhit} Al-Burhani>, kitab fiqh Al-Hanafiyyah terdapat pernyataan:[10]
إ نه ينبغي أن لا يكتب المصحف بِغَيْرِ الرَّسْمِ العُثْمَان

“sesungguhnya tidak di perkenankan menulis mushaf, kecuali dengan rasm Us\mani.”
Jumhur ulama berpendapat bahwa pola rasm Us\mani bersifat dengan alasan bahwa para penulis wahyu adalah sahabat-sahabat yang ditunjuk dan dipercayai Nabi saw. Pola penulisan tersebut bukan merupakan ijtihad para sahabat Nabi, dan para sahabat tidak mungkin melakukan kesepakatan (ijma) dalam hal-hal yang bertentangan dengan kehendak dan restu Nabi terdapat sekelompok ulama berpendapat lain, bahwa pola penulisan di dalam Rasm Utsmani tidak bersifat taufiqi,tetapi hanya ijtihad para sahabat.
b.    Rasm Arudi
Rasm Arudi ialah cara menuliskan kalimat-kalimat Arab disesuaikan dengan wazan syair-syair Arab. Hal itu dilakukan untuk mengetahui “Bahr” (nama macam syair) dari syair tersebut contohnya seperti: وليل كموج البحر ار خي سدو له  sepotong syair Imriil qais tersebut jika ditulis akan berbentuk: وليل كموج البح ر ار خي سدو لهو sesuai dengan فعو لن مفا عيلن فعولن مفا علين sebagai timbangan syair yang mempunyai “bahar tanwil.”
c.    Rasm Qiya>si/Imlai
Daud Ismail dalam jurnalnya menuliskan bahwa mushaf Imlai adalah salah satu versi Alquran yang ditulis berdasarkan tulisan Arab Standar. Mushaf Imlai merupakan versi mushaf Alquran yang ditulis berasaskan kaidah penulisan bahasa Arab biasa yang dipanggil rasm Imlai atau rasm Qiyasi. Struktur kalimat Alquran (rasm) dan tanda-tanda (dabt) dalam mushaf imlai didapati berbeda dengan mushaf Us\mani.[11] Ada pendapat yang mengatakan bahwa Alquran dengan Imlai dapat dibenarkan, tetapi khusus bagi orang awam. Bagi para ulama atau yang memahami rasm Us\mani tetap wajib mempertahankan keaslian rasm Us\mani.[12]
Rasm Imlai secara berleluasa telah menimbulkan beberapa implikasi, khususnya apabila melibatkan penulisan mushaf. Justru itu, para ulama bahasa telah mengambil inisiatif untuk menyusun semula kaidah penulisan bahas Arab versi rasm Imlai. Usaha ini dilakukan supaya terwujudnya perbedaan yang jelas antara rasm Imlai dan rasm Us\mani.
Miga Mutiara dalam skripsinya menuliskan contoh dari rasm Imlai adalah lafaz (انا) ditulis dengan (انا) walaupun jika dilanjutkan Alifnya hilang seperti (انا نذير ). Begitu juga dengan hamzah wasal seperti (جاء الحق ) tetap harus ditulis, walaupun tidak diucapkan pada waktu ia berada di tengah kalimat, sebab jika dimulai dari awal kalimat maka diucapkan (الحق جاء ).[13]
2.    Kaidah Rasm Mushaf
Adapun pola penulisan mushaf Us\mani para ulama meringkas kaidah-kaidah itu menjadi 6 istilah, yaitu:[14]
a.        al-Haz\f  (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf). Contohnya, menghilangkan huruf alif pada ya` nida’, dan tanbih, contoh:  العلمين ،الحفظين,هؤلآء . Penghilangan ini bertujuan untuk mengisyaratkan adanya bacaan lain dan meringkas tulisan.[15]
b.      al-Ziya>dah (penambahan), seperti menambahkan huruf alif setelah wawu atau yang mempunyai hukum jama’ dan menambah alif setelah hamzah marsumah (hamzah yang terletak di atas tulisan wawu) contoh : ملاقواربهم .
c.       al-hamzah, salah satu kaidahnya berbunyi bahwa apabila hamzah berharakat sukun, terkadang ditulis dalam bentuk waw dan ya’. Contoh: يؤمنون.
d.      Badal (penggantian), pergantian huruf dalam ilmu rasm us\mani ada tiga macam, yaitu penulisan alif yang berasal dari ya, penulisan alif yang berasal dari waw, sebagaimana dalam contoh: الصلوة.
e.       Was}al dan fas}al (penyambungan dan pemisahan), seperti kata ‘an yang di iringi kata ma ditulis dengan disambung, contoh: عمّا. Juga kata aina dipisah dengan ma> contoh: أينما.
f.        Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Penulis kata yang dapat dibaca dua bunyi disesuaikan dengan salah satu bunyinya. Di dalam mushaf Us\mani, penulisan kata semacam itu di tulis dengan menghilangkan alif, contoh ووصى bisa juga dibaca واوصى karena ditulis sesuai qira’atnya.

3.    Biografi Abu Amar al-Dani
Abu Amar al-Dani nama lengkapnya adalah Usman Bin Said bin Usman bin Amr Abu Amr al-Dani. Sebutan al-Dani yang melekat pada dirinya merupakan nisbat kepada tanah kelahirannya, yaitu sebuah kota kecil di Andalusia (Spanyol bagian selatan) bernama al-Daniyyah[16] dibawah kekhalifahan Daulah Umayyah di Cordoba saat itu atau sekitar tahun (371-444 H/981-1053 M). Jika melihat tahunnya, maka ad-Dani hidup sekitar Daulah Umayyah dari Hisyam II sampai Hisyam III.[17]
Imam Abu Amar ad-Dani pada zamannya dikenal dengan nama S}airafi al-Maliki, yang merupakan syaikh dari para masyayikh qori. Sedangkan pada masa sekarang lebih masyhur sebagai ad-Dani. Beliau orang yang cerdas, kuat hafalannya, hafal Alquan, juga belajar semua disiplin ilmu agama, dari Alquran dengan segala disiplin ilmunya, juga ilmu-ilmu hadis.
Ada perbedaan pendapat para ahli, Ibnu Baksoel dalam Ashilah mengatakan bahwa beliau lahir tahun 371 H sebagaimana Imam Adz-Dzahabi dalam Syi’ar A’lam An-Nubala dan imam Al-Jazari, dalam An-Nasyr fi Al-Qira’at Al-‘Asyr, dan Ghoyatunnihayah, sedangkan Abu Abdullah Yaqut Al-Hamawi dalam Mu’jam Al-Udaba mengatakan beliau lahir 372 H di Addaniyah Andalusia. Beliau mencari ilmu ke seluruh wilayah  Andalusia, kemudian tahun 398 H beliau pergi ke Qoiruwan Tunisia, dan kemudian ke wilayah Mesir, Mekkah Madinah dan kota lainnya (Masyriq). Pada tahun 398 H kembali ke Andalusia hingga wafat di Daniyah. Al-Dani wafat pada hari senin pertengahan bulan Syawal tahun 444 hijriah dan dikebumikan di Daniyah.
Imam al-Dani hidup dalam masa abad 4-5 Hijriyah (seperempat akhir masa waktu abad ke empat dan masuk abad ke 5), dimana saat itu masa bergejolaknya politik Islam dari barat sampai timur Arab. Pada masa itu dari sisi keilmuan merupakan masa keemas an perkembangan ilmu pengetahuan (Masa Daulah Umayyah).
a.    Murid-murid Abu Amar al-Dani
Selain banyaknya guru yang menjadi sumber keilmuan beliau, banyak pula tokoh-tokoh Islam terkemuka yang lahir dari majelis ilmu pimpinan beliau. Para ulama menjadikan al-Dani sebagai sumber rujukan apabila menemukan perbedaan. Dari sekian banyak muridnya yang terkenal adalah Abu Sulaiman ibn Najah yang telah mengarang sebuah buku dalam cabang ilmu rasm Us\mani dengan judul at-Tanzi>l fil al-Rasm. Abu Sulaiman ibn Najah mempunyai seorang murid bernama ‘Ali ibn Hudzail yang darinya belajar seseorang yang nantinya menjadi ahli qiraat terkemuka pula, ia adalah al-Qasim al-Syathibi.[18]
Murid-murid Imam Abu Amar al-Dani lainnya yang tidak kalah terkenal antara lain, Ibrahim bin Khalaf bin Muawiyah,[19] Ibnu al-Bayyaz dan Ahmad Abd al-Malik ibn Abi Hamzah Tercatat pula tokoh lain yang sempat menimba ilmu kepada al-Dani wafat. Tercatat pula pula tokoh lain yang sempat menimba ilmu kepada al-Dani diantaranya, Abdullah ibn Sahaa al-Anshari, al-‘Ash ibn Khalaf Abu Bakar al-Isybili pengarang kitab al-Taz\kirah wa al-Tahz\i>b, Muhammad ibn ‘Isa ibn al-Farq al-Maghami, juga Muhammad ibn Ibrahim ibn Ilyas yang lebih dikenal dengan ibn Syu’aib.
b.    Karya-karya Abu Amar al-Dani
Ad-dzahabi (w. 784 H) menyebutkan banyak kitab yang telah ditulis oleh Abu Amar al-Dani, kitab itu antara lain: Jami’ al-Bayan fi as-Sab’i, at-Taisir , al-Iqtis}ad fi Qiraat Warasi>, ijaz al-Baya>n fi Qiraat as-Syawaz\, at-Talkis}, al-Muqni’ fi ar-Rasm, al-Muhtawa fi Qira’at as-Syawaz\, thabaqat al-Qurra, al-Arjuzah fi Us}ul ad-Diyanah, al-Waqf wa al-Ibtida, al-Adad, At-Tahmi>d fi Harf an-Nafi, al-Lamat wa ar-Raat, al-Fitan al-Kainah, al-Hamzatain, al-Yaat, al-Imalah dan masih banyak lagi.

4.    Konstribusi Abu Amar ad-Dani dalam Perletakkan Kaidah Rasm Mushaf
a.    al-Haz\f dan Isbat
Dalam salah satu kitabnya, Imam Abu Amar al-Dani menuliskan bahwa penghilangan atau haz\f dalam mushaf terdiri atas lima huruf yaitu alif, waw, ya’,nun dan lam, tetapi lebih banyak penghilangan pada tiga tempat yaitu, alif,waw dan ya’.[20]
Tabel 4.1.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-Baqarah : 21
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Y9$#
Haz\f alif  pada ya’ nida
2
al-A’raf : 77
ßxÎ=»|Á»tƒ
Haz\f alif  pada ya’ nida
3
Hud :44
 ÞÚör'¯»tƒ
Haz\f alif  pada ya’ nida
4
Yusuf : 84
4s"yr'¯»tƒ ô
Haz\f alif  pada ya’ nida
5
Maryam : 28
M÷zé'¯»tƒ
Haz\f alif  pada ya’ nida[21]

Tabel 4.2.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-Baqarah : 31
äIwàs¯»yd  
Haz\f alif  setelah ha’ li tanbih
2
al-Baqarah : 35
ÍnÉ»yd
Haz\f alif  setelah ha’ li tanbih
3
Ali imran : 66
÷LäêRr'¯»yd
Haz\f alif  setelah ha’ li tanbih
4
al-Qasas : 27
Èû÷ütG»yd
Haz\f alif  setelah ha’ li tanbih
5
al-Naml : 42
#xs3»ydr&
Haz\f alif  setelah ha’ li tanbih[22]

Tabel 4.3.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-Fatihah : 4
Å7Î=»tB
Haz\f alif
2
al-Baqarah : 2
Ü=»tGÅ6ø9$#
Haz\f alif[23]
3
al-Baqarah :151
!$oYÏG»tƒ#uä
Haz\f alif
4
al-A’raf : 112
@Ås»y 8
Haz\f alif[24]
5
Hud : 16
y×@ÏÜ»t/ur
Haz\f alif
6
al-Ma’arij : 40
É-̍»t±pRùQ$# É>̍»tópRùQ$#ur t
Haz\f alif

Dari tabel 4.3 diatas, Imam Abu Amar al-Dani menghaz\f alif pada beberapa tempat. Misalnya menghaz\f alif pada surat al-Baqarah ayat 2 kecuali pada empat tempat yaitu surat al-Ra’d ayat 38, al-Hijr ayat 4, al-Kahfi ayat 27 dan an-Naml ayat 1. Selanjutnya menghaz\f alif pada surah al-baqarah ayat 151 kecuali pada dua tempat yaitu surat Yunus ayat 15 dan 21, ditulis dengan isbat alif. Lalu pada dalam surat al-A’raf ayat 112 menghaz\f alif kecuali dalam surat adz-Dzariyat ayat 52. Imam Abu Amar  al-Dani menghaz\f alif pada lafaz @ÏÜ»t/u di atas kecuali pada surat al-Baqarah ayat 42 dan 188 dan surat Ali imran ayat 71 dan 191. Beliau juga mengis\bat alif pada kedua lafaz dalam surat al-Ma’arij tersebut kecuali pada surat al-A’arah ayat 137 dan as-Shaffat ayat 5. kaidah ini mengikuti kaidah rasm us\mani yakni dengan menghaz\f Alif apabila berbentuk jamak dengan wazan مفاعل  atau yang mnyerupai.

Tabel 4.4.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-Baqarah : 6
(#rãxÿx.
Is\bat alif setelah waw jama’[25]
2
al-Baqarah : 9
š(#qãZtB#uä
Is\bat alif setelah waw jama’
3
al-Taubah : 67
4 (#qÝ¡nS ©!$#
Is\bat alif setelah waw jama’
4
al-Furqan : 14
ž  (#qãã÷Š$#ur
Is\bat alif setelah waw jama’
5
al-Rum : 10
(#q䫯»yr&
Is\bat alif setelah waw jama’[26]

Tabel 4.5.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-Baqarah : 61
ÏM»tƒ$t«Î/ «
Is\bat ya’
2
al-An’am : 21
ôÿ¾ÏmÏG»tƒ$t«Î/
Is\bat ya’[27]
3
Ali imran : 20
4  z`¿ÍhÏiBW{$#ur
Haz\f ya’
4
Ali imran : 79
ªz`¿ÍhŠÏY»­/u
Haz\f ya’
5
al-Maidah : 111
z`¿ÎiƒÍ#uqysø9$# ÷
Haz\f ya’[28]

Dalam kaidah is\bat ya’ pada kedua lafaz di atas, tidak hanya disetujui Imam Abu Amar ad-Dani, tetapi juga Imam Abu Dawud atau lebih dikenal dengan syaikha>ni. Adapun untuk haz\f ya’ pada katiga lafaz di atas bertujuan untuk meringkas dan is\bat ya’ asal.

b.    al-Ziya>dah
Tabel 4.6.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-Baqarah : 23
(#qè?ù'sù ;ouqÝ¡Î/
Ziyadah alif setelah huruf waw
2
al-Baqarah : 189
3(#qè?ù&ur šVqãç7ø9$# ô
Ziyadah alif setelah huruf waw[29]
3
al-Thalaq : 6
4(#rãÏJs?ù&ur /ä3uZ÷t/ 7
Ziyadah alif setelah huruf waw[30]
4
Thaha : 64
(#qçGø$# $yÿ|¹ 4 ô
Ziyadah alif setelah huruf waw
5
Yusuf : 50
tÎTqçGø$# ¾ÏmÎ/ (
Ziyadah ya’[31]
6
Yusuf : 59
 ÎTqçGø$# 8ˆr'Î/
Ziyadah ya’

c.    al-Hamzah

Tabel 4.7.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-A’raf :163
öNßgù=t«óur Ç`tã Ïptƒös)ø9$#
Penulisan hamzah dalam bentuk ya’[32]
2
Yunus : 94
È@t«ó¡sù šúïÏ%©!$#
 Penulisan hamzah dalam bentuk ya’[33]
3
Yusuf : 82
È@t«óur sptƒös)ø9$#
Penulisan hamzah dalam bentuk ya’
4
an-Nahl : 43
(#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$#
Penulisan hamzah dalam bentuk ya’
5
al-Anbiya : 63
öNèdqè=t«ó¡sù
Penulisan hamzah dalam bentuk ya’

Tabel 4.8.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
Ali Imran : 87
öNèdät!#ty_
Penulisan hamzah dalam bentuk waw
2
An-Nisa : 11
ÿöNä.ät!$t/#uä
Penulisan hamzah dalam bentuk waw
3
an-Nisa : 93
¼çnät!#tyfsù Þ
Penulisan hamzah dalam bentuk waw
4
al-An’am : 87
ô`ÏBur óOÎgͬ!$t/#uä ö
Penulisan hamzah dalam bentuk ya’
5
al-Ahzab : 6
ö#n<Î) Nä3ͬ!$uŠÏ9÷rr&
Penulisan hamzah dalam bentuk ya’[34]

Menurut pandangan Imam Abu Amar al-Dani untuk perletakkan hamzah setelah alif, bersambung dengannya d}ami>r. Jika dalam bentuk d}amah, maka penulisan hamzah dalam bentuk waw, jika dalam bentuk kasrah dalam bentuk ya’ sebagaimana gambar di atas.

d.    al-Badal

Tabel 4.8.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
al-Baqarah : 85
§Ío4quŠysø9$#
Alif diganti dengan waw
2
al-Baqarah : 275
Èš(#4qt/Ìh9$# 3
 Alif diganti dengan waw
3
al-Kahfi : 28
Ío4rytóø9$$Î/
Alif diganti dengan waw
4
an-Nur : 35
;o4qs3ô±ÏJx.
Alif diganti dengan waw
5
al-Mu’min : 41
Ío4qyf¨Z9$# û
Alif diganti dengan waw[35]

e.    al-Fas}l wa al-Was}l
Tabel 4.9.
No
Surah / ayat
Lafaz
Keterangan
1
Hud : 14
óO©9Î*sù (#qç7ŠÉftFó¡o
al-was}l[36]
2
an-Nur : 43
`tã `¨B âä!$t±o ( ß
al-fas}l[37]
3
an-Najm : 29
ó`tã `¨B 4¯<uqs?
al-fas}l
4
an-Naba :1
§Ntã tbqä9uä!$|¡tFtƒ
al-was}l

Berdasarkan tabel 4.9. di atas terlihat bahwa ada beberapa lafaz dalam Alquran yang disambung juga ada yang dipisah. Hal ini juga termasuk kesepakatan syaikha>ni ada yang sama namun ada juga yang berbeda.

C.   KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Rasm mushaf yang juga dikenal dengan rasm us\mani merupakan kaidah penulisan kalimat-kalimat ayat Alquran yang lebih menitik beratkan pada metode tertentu digunakan dan dipersetujui oleh khalifah Utsman. Penulisan rasm ini dibuat berdasarkan apa yang telah diriwayatkan oleh para ulama rasm (tulisan). Rasm mushaf terdiri atas, rasm Us\mani, rasm ‘Arudi dan rasm Imla’i.
2.      Bentuk-bentuk perletakkan kaidah rasm mushaf terdiri dari:
a.       al-Haz\f  (membuang atau menghilangkan huruf) contohnya, العلمين .
b.      al-Ziyadah (penambahan) contohnya, ملاقواربهم.
c.       al-hamzah (penulisan hamzah) contohnya, يؤمنون.
d.      Badal (penggantian), contohnya, الصلوة.
e.       Was}al dan fas}al (penyambungan dan pemisahan), contohnya, عمّا.
f.        Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Contohnya ووصى dan واوصى .
3.     Abu Amar al-Dani memiliki nama lengkap Usman Bin Said bin Usman bin Amr Abu Amr al-Dani lahir sekitar tahun (371-444 H/981-1053 M). Sebutan al-Dani yang melekat pada dirinya merupakan nisbat kepada tanah kelahirannya, yaitu sebuah kota kecil di Andalusia bernama al-Daniyyah. Banyak guru yang menjadi sumber keilmuan beliau dan banyak pula tokoh-tokoh Islam terkemuka yang lahir dari majelis ilmu pimpinan beliau. Semasa hidup banyak memberikan konstribusi bagi umat berupa kitab-kitab yang ditulis salah satunya kitab “al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r “yang membahas tentang kaidah rasm mushaf.
4.      Abu Amar al-Dani telah banyak berkonstribusi dalam perletakkan kaidah rasm mushaf. Sebagaimana dalam kitab beliau yang berjudul “al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r “ yang membahas tentang kaidah rasm mushaf. Didalamnya memuat banyak pola dan pandangan baik yang terkait dengan haz\f  dan isbat (penghilangan dan penetapan huruf), ziya>dah (penambahan), penulisan hamzah, badal (pengganti), was}l dan fas}l (penyambungan dan pemisahan huruf), dan lainnya. Tulisan ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan keilmuan tentang ilmu rasm mushaf, para tokoh dan konstribusi para ulama rasm didalamnya.


DAFTAR PUSTAKA
al-Dani, Abu Amr Usman ibn Said. tahqi>q: Nurah bin Fahdi al-Humaid. al-           Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r. al-Mamlakah al-         ‘Arabiyyah al-Su’udiyyah: Dar al-Tadmuriyah. 2010.
Febrianingsih, Dian. Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani. Jurnal  Al-Murabbi:   Studi Kependidikan dan Keislaman. Vol:. 2.. No. 2. 2016.
Hula, Ibnu Rawandhy N. Qawaid al-Imla Wa al-Khat: Kaidah-kaidah Menulis       Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. Cet. 1; Gorontalo: Sultan Amai     Press. 2016.
Ismail, Daud, Dkk. Mushaf Imla’i dan Implikasinya dalam   Pembacaan      Al-       Quran. Jurnal  Ulum Islamiyyah: 2016.
Khaeroni, Cahaya. Sejarah Al-Qur’an: Uraian Analitis, Kronologis, dan Naratif    tentang Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an. Historia Jurnal: Program Studi          Pendidikan Sejarah. Vol: 5 No. 2. 2017.
Madzkur, Zaenal Arifin. Urgensi Rasm Utsmani: Potret Sejarah dan Hukum          Penulisan Al-Qur’an dengan Rasm ‘Utsmani. Jurnal Khatulistiwa: Vol: 1.            No. 1. 2014.
Mutiara, Miga. Kajian ilmu Rasm Usmani mushaf standar Indonesia dan mushaf   Madinah. Skripsi Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.          2019.
Prayitno, Edi. Inkonsistensi Rasm Dalam Manuskrip Mushaf Pleret Bantul D.I      Yogyakarta: Kajian Filolgi dan Rasm Mushaf, Tesis Pascasarjana,     Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, SIU Sunan Kalijaga, 2017.
Rahman, Abd. Perbandingan Rasm Usmani Antara Mushaf Standar Indonesia       dan      Mushaf Pakistan Perspektif al-Dānī: Analisis Kaidah Hażf al-Harf     dalam Rasm     Usmani. Tesis Pascasarjana, Fakultas Ushuluddin, UIN        Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019.
Thoharoh, Atifah. Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia dan Mushaf         Madinah: Kajian atas Ilmu Rasm. Skripsi Fakultas Ushuluddin Adab dan          Dakwah, IAIN Tulungagung. 2018.
Usup, Djamilah. Ilmu Rasm Al-Qur’an. Jurnal Ilmiah: Al-Syir’ah, Vol: 5. No. 1.    2007.
Yunardi, Ecep Badri. Sejarah Mushaf Al-Qur’an An Standar Braille           Penelusuran     Awal. Jurnal: Suhuf Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya.    Vol: 5. No. 2. 2012.




[1]Ecep Badri Yunardi, Sejarah Mushaf Al-Qur’an Standar Braille Penelusuran Awal, Jurnal Suhuf Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya,  Vol. 5, No. 2, 2012, h. 255.
                [2]Cahaya Khaeroni, Sejarah Al-Qur’an (Uraian Analitis, Kronologis, dan Naratif tentang Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an),  Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, Vol. 5, No. 2, 2017, h. 194.
                [3]Atifah Thoharoh, Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia dan Mushaf Madinah (Kajian atas Ilmu Rasm), (Skripsi yang Diajukan pada Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN), h. 32.
[4]Djamilah Usup, Ilmu Rasm Ai-Qur’an, Jurnal Ilmiah: Al-Syir’ah, Vol. 5, No. 1, 2007, h. 2.
[5]Edi Prayitno, Inkonsistensi Rasm Dalam Manuskrip Mushaf Pleret Bantul D.I Yogyakarta: Kajian Filolgi dan Rasm Mushaf, (Tesis yang Diajukan Kepada Pascasarjana, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, SIU Sunan Kalijaga, 2017), h. 16.
                [6]Ibnu Rawandhy N Hula,  Qawaid al-Imala wal Khat: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi, (Cet. 1; Gorontalo: Sultan Amai Press, 2016), h. 192.
                [7]Abd Rahman, Perbandingan Rasm Usmani Antara Mushaf Standar Indonesia Dan Mushaf Pakistan Perspektif al-Dānī “Analisis Kaidah Hażf al-Harf dalam Rasm Usmani”, (Tesis yang Diajukan Kepada Pascasarjana, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019), h. 3.
            [8]Zaenal Arifin Madzkur, Urgensi Rasm Utsmani: Potret Sejarah dan Hukum Penulisan Al-Qur’an dengan Rasm ‘Utsmani, Jurnal Khatulistiwa, Vol.1, No.1, 2014, h. 16.
                [9]Ibnu Rawandhy N Hula,  Qawaid al-Imala wal Khat: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi, h.195.
            [10]Ibnu Rawandhy N Hula,  Qawaid al-Imala wal Khat: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi, h.195.
            [11]Daud Ismail dkk, Mushaf Imla’i dan Implikasinya dalam Pembacaan Al-Qur’an, Jurnal ‘Ulum Islamiyyah, Vol. 17 Juni 2016, h. 44.
                [12]Ibnu Rawandhy N Hula,  Qawaid al-Imala wal Khat: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi, h.195.
[13]Miga Mutiara, Kajian Ilmu Rasm Usmani Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Madinah, (Skripsi yang Diajukan pada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 2019), h. 58-59.
                [14]Dian Febrianingsih, Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani, Jurnal Al-Murabbi: Studi Kependidikan dan Keislaman, Vol. 2, No. 2, Januari 2016, h. 298.
[15]Miga Mutiara, Kajian Ilmu Rasm Usmani Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Madinah, (Skripsi yang Diajukan pada Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 2019), h. 62.
[16]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r, (al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah: Dar al-Tadmuriyah, 2010 M/ 1431 H), h. 33.
[19]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>rh. 44.
[20]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 170.
[21]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 220-221.
[22]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 222.
[23]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 250.
[24]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 252.
[25]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 285.
[26]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 286.
[27]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 384.
[28]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 378.
[29]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 294.
[30]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 294.
[31]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 295.
[32]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 296.
[33]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 296.
[34]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 335.
[35]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 399.
[36]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 365.
[37]Abu Amr Usman ibn Said al-Dani tahqi>q Nurah bin Fahdi al-Humaid, al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsu>m Mas}a>hif Ahl al-Ams}a>r,), h. 368.