BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Definisi
terjemah yakni sebagai usaha memindahkan pesan dari teks berbahasa Arab (teks
sumber) dengan padanannya ke dalam bahasa Indonesia (bahasa sasaran).[1]
Kegiatan penerjemahan mempunyai peranan penting dalam mentransfer ilmu
pengetahuan dan informasi dalam berbagai bidang kehidupan seperti agama,
sosial-politik, ekonomi, dan budaya.[2]
Dalam
pembelajaran bahasa Arab tidak terlepas dari empat kajian, yaitu: fonologi,
morfologi, sintaksis dan semantik. Sintaksis atau ilmu nahwu membahas
tentang kata dan proses penyusunannya hingga menjadi sebuah kalimat. Sedangkan
semantik atau ilmu dilalah membahas tentang makna leksikal, gramatikal,
ataupun kontekstual.
Dalam proses
penerjemahan tak lepas dari berbagai problematika dalam menerjemahkan kosa kata
ataupun ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab yang telah dikenal dan digunakan
secara luas namun tidak sepenuhnya sesuai dari aturan yang berlaku secara umum,
baik dari aspek susunan maupun makna.
Isim maus}u>l merupakan
salah satu permasalahan yang dapat menjadikan seseorang tidak tepat dalam
memaknai atau memahami arti kata sesuai
dengan konteks kalimat yang dimaksud, karena bentuk isim maus}u>l yang
bermacam-macam.[3]
Selain itu, terdapat ungkapan-ungkapan populer biasanya hanya membahas
perbendaharaan istilah atau kosa kata yang memiliki makna berbeda dengan makna
umum[4]
dan mempunyai keterkaitan makna dengan kosa kata yang lain.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan isim maus}u>l
(اسم موصول)?
2.
Bagaimana pertemuan
isim maus}u>l
(اسم موصول), dan min (من), dan ma> (ما)?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian dari isim maus}u>l (اسم
موصول).
3.
Untuk
mengetahui pertemuan isim maus}u>l (اسم موصول), dan min (من), dan ma> (ما).
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Isim Maus}u>l
(اسم موصول)
إِسْمُ
مَوْصُوْلِ : هُوَ مَا دَلَّ عَلَى شَيْءٍ مُعَيَّنٍ لِصِلَّةِ الْكَلِمَةِ أَوِ
الْجُمْلَةِ
Isim maus}u>l merupakan
isim yang menunjukkan sesuatu tertentu yang berfungsi untuk menghubungkan kata
ataupun kalimat.[5]
Isim maus}u>l
termasuk salah satu jenis isim ma’rifah. Isim
maus}u>l
merupakan isim yang dipergunakan untuk menghubungkan sebuah kata,
frasa atau klausa dengan kata, frasa atau klausa lainnya, yang biasanya dalam
bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “YANG”.
Isim maus}u>l
adalah isim yang berfungsi sebagai penghubung beberapa kalimat atau pokok
pikiran menjadi satu kalimat. Fungsi lain dari isim maus}u>l yaitu
sebagai penghubung dan menunjuk kembali pada kata yang mendahuluinya. Kata
penghubung dalam bahasa Arab pada prinsipnya mempunyai kesamaan dan juga
perbedaan dengan kata penghubung dalam bahasa-bahasa lain.[6]
Dalam bahasa
Indonesia isim maus}u>l
tidak memiliki arti yang khusus, namun
dapat diwakili dengan kata yang, orang, tempat, dan dapat
berarti pula barang atau sesuatu. Isim maus}u>l dalam
bahasa Arab memiliki kesesuaian jumlah dan jenis. Salah satu isim maus}u>l yang
dapat dijumpai dalam bentuk الَّذِيْ / allaz\i.>
Isim maus}u>l
dalam bahasa Arab tetap
mengikuti dan menyesuaikan pada aturan bentuk:
1.
Mufrad
(1), Mus\anna (2),
dan Jama’ (J)
2.
Muz\akkar (L) dan Muannas\ (P)
3.
Berakal
(Manusia) dan Tidak berakal (selain manusia).[7]
Seperti dalam tabel berikut.
|
Jumlah
|
Jenis
|
|
|
Muz\akkar
|
Muannas\
|
|
|
Mufrad
|
الَّذِي
|
الَّتِي
|
|
Mus\anna
|
اللَّذَانِ
|
اللَّتَانِ
|
|
Jama’
|
الَّذِيْنَ
|
اللَّاتِيْ
|
Berdasarkan
tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah yang terdiri atas mufrad, mus\anna dan
jama’, masing-masing memiliki dua jenis yaitu
bentuk muz\akkar dan
muannas\.
Adapun
contoh-contoh penggunaan isim maus}u>l dalam kalimat
sempurna baik dalam bentuk lil ’aqil maupun li gairil ’aqil
sebagai berikut.
a.
Untuk muz\akkar
1) Mufrad / الَّذِي
الطَّالِبُ الَّذِيْ يَتَعَلَّمُ الفِقْهَ مَاهِرٌ
“Mahasiswa yang belajar fikih itu pintar”[8]
2) Mus\anna
/ اللَّذَانِ
الْمِفْتَحَانِ اللَّذَانِ وَضَعْتُهُمَا عَلَى
الْمَكْتَبِ جَمِيْلاَنِ
“Dua kunci yang saya letakkan di atas meja
itu, keduanya indah”
3) Jama’ / الَّذِيْنَ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ
الْفِقْهَ
“Para
Guru laki-laki yang mengajar fikih itu datang”[9]
b.
Untuk muannas\
1)
Mufrad / الَّتِي
الطَّالِبَةُ الَّتِيْ تَتَعَلَّمُ الْفِقْهَ
مَاهِرَةٌ
“Mahasiswi yang belajar fikih itu pintar”[10]
2)
Mus\anna / اللَّتَانِ
الْحَقِيْبَتَانِ اللَّتَانِ وَضَعْتُهُمَا عَلَى الْمَكْتَبِ
جَمِيْلَتَانِ
“Dua tas yang saya letakkan di atas meja itu,
keduanya indah”
3)
Jama’ / اللَّاتِيْ
الطَّالِبَاتُ اللَّاتِيْ يَتَعَلَّمْنَ الْفِقْهَ
مَاهِرَاتٌ
“Para mahasiswi yang belajar fikih itu
semuanya pintar”
Adapun beberapa contoh penggunaan isim maus}u>l dalam
Alquran sebagai berikut:
a.
QS. Al-Fatihah: 1:
7.
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّالِّينَ
Terjemahnya:
“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan
(jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.[11]
b.
QS. Al-Fajr:
89: 9.
وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ
Terjemahnya:
“Dan (terhadap) kaum s\amu>d
yang memotong batu-batu besar di lembah”.
c.
QS. Al-Ma’u>n: 107:
1.
أَرَئَيْتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ
Terjemahnya:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama”.
B.
Pertemuan
Isim Maus}u>l
(اسم موصول), dan Min (من), dan Ma> (ما)?
Min
adalah huruf jarr
yang selalu men-jarr-kan
isim za>hir dan
isim d}ami>r.
Ia mempunyai beberapa makna, yaitu tab’i>d} (sebagian),
menjelaskan jenis, ibtida>’ ga>yah (permulaan) yang menunjukkan makna
tempat, ibtida>’ ga>yah yang menunjukkan makna waktu, za>’idah
(tambahan), ta’li>l (alasan)
dan sebagai badal
(pengganti).[12]
Pertemuan isim maus}u>l dengan مِن, yang berfungsi sebagai penjelasan (بيانية). Dalam bahasa Arab sering sekali sekali digunakan kalimat yang
didalamnya terdapat isim maus}u>l (ما, مَن, الذي) yang kemudian diikuti oleh harf jarr مِن
yang disebut بيانية atau
penjelas.
Apabila
sebelum kata tersebut terdapat kata ma> atau kata yang
maknanya masih bersifat nakirah (belum jelas), seringkali ia merupakan min
yang dimaksudkan untuk menjelaskan kata ma> tersebut. Oleh karena itu cara penerjemahannya
berbeda dari min
biasa yang bermakna ‘dari’. Kata-kata yang umumnya berupa isi setelah min
tersebut sesungguhnya merupakan pesan yang lebih jelas dan konkrit dari lafaz ma>.
Oleh karena itu, dalam menerjemahkan kata-kata setelah min
diletakkan dalam ma>.[13]
Sebagai contoh:
1. اِنَّ مَا تَحَقَّقَ
مُحَمَّدٌ مِنْ نَجَاحِ لَيْسَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Diterjemahkan:
Keberhasilan yang dicapai Muhammad sesungguhnya bukan merupakan hasil
dari jerih payahnya sendiri.
Dalam
menerjemahkannya seolah-olah tidak ada ma> dan min sehingga
kalimatnya menjadi :
(Bukan:
Sesuatu yang dicapai Muhammad dari keberhasilan bukan merupakan hasil
dari jerih payahnya sendiri).
Dalam
menerjemahkannya seolah-olah tidak ada ma> dan min sehingga
kalimatnya menjadi :
اِنَّ
نَجَاحِ تَحَقَّقَ مُحَمَّدٌ لَيْسَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
2. وَلَكِنْ ذَلِكَ لَا يُحَقِّقُ مَا أَتَمَنَاهُ مِنْ
تَقَدُّمِ
Diterjemahkan:
Akan tetapi hal itu tidak sesuai dengan kemajuan yang saya harapkan.
(Bukan:
Akan tetapi, hal itu tidak sesuai dengan sesuatu yang saya harapkan dari
kemajuan). Seolah-olah kalimatnya menjadi :
وَلَكِنْ ذَلِكَ لَا يُحَقِّقُ
تَقَدُّمِ أَتَمَنَاهُ
3. فَيْ هَذَا الكِتَابِ يَقِفُ الْقَارِئُ عَلَى مَا
يَجْرِى فِيْ حُجْرَةِ الْعَلَاجِ مِنْ تَفَاصِيْل وَدَقَائِق
Diterjemahkan: “Dalam
buku ini pembaca dapat memperhatikan (secara seksama) aspek-aspek rinci dan
detail yang terjadi di ruang pengobatan (penyembuhan)”. Seolah-olah kalimatnya
menjadi :
فَيْ هَذَا الكِتَابِ يَقِفُ
الْقَارِئُ عَلَى تَفَاصِيْلِ وَدَقَائِقِ يَجْرِى فِيْ حُجْرَةِ الْعَلَاجِ
4. وَنَحْنُ
نَعْتَرِفُ أَنَّ مَا أَصَابَ العَقْلِ المُسْلِمِ مِنْ صُدُوْعِ وَ رُضُوْضِ
لاَ يُمْكِن أَنْ يُعَالِجَ بِكِتَابٍ أَوْ مُحَاضَرَةٍ أَوْ بَحْثٍ
Diterjemahkan: “Kami
mengakui bahwa sebenarnya kekacauan yang menimpa nalar Islam tidak
mungkin diterapi (hanya) dengan buku, seminar maupun penelitian”. Seolah-olah
kalimatnya menjadi :
وَنَحْنُ
نَعْتَرِفُ أَنَّ صُدُوْعِ وَ رُضُوْضِ أَصَابَ العَقْلِ المُسْلِمِ لاَ يُمْكِن أَنْ
يُعَالِجَ بِكِتَابٍ أَوْ مُحَاضَرَةٍ أَوْ بَحْثٍ
5. الْقُرْاَنُ
وَمَا فِيْهِ مِنْ كَلِمَاتٍ أَجْنَبِيَةٍ
Diterjemahkan: Alquran dan kata-kata asing didalamnya.
(Bukan:
Alquran dan hal-hal yang ada didalamnya itu dari kata-kata asing).
Kalimat seperti
itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seolah tidak ada isim maus}u>l ma> dan min didalamnya,
kemudian dari kata sebelum isim maus}u>l ma> meloncat kepada kata sesudah min,
sesudah itu kembali kepada kata sesudah isim maus}u>l itu.[14]
Sehingga kalimatnya menjadi :
الْقُرْاَنُ
وَ كَلِمَاتٌ أَجْنَبِيَةٌ فِيْهِ
6.
إِشْتَرَيْتُ
مَا فِي الْمَكْتَبَةِ مِنْ الْكُتُبِ وَالْمَجَلاَّتِ أَمْسِ
Dalam kalimat
itu seolah-olah tidak ada ma> dan min
sehingga tidak diterjemahkan, Saya telah membeli barang-barang di
perpustakaan/toko buku dari buku-buku dan majalah-majalah kemarin itu,
melainkan diterjemahkan menjadi, “Saya telah membeli buku dan majalah yang
di toko itu kemarin”. Sehingga kalimatnya menjadi :
إِشْتَرَيْتُ الْكُتُبَ وَالْمَجَلاَّتِ
أَمْسِ فِي الْمَكْتَبَةِ .
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Isim maus}u>l merupakan
isim yang menunjukkan sesuatu tertentu yang berfungsi untuk menghubungkan kata
ataupun kalimat dan termasuk salah satu jenis isim ma’rifah. Salah
satu isim maus}u>l
yang dapat dijumpai dalam bentuk الَّذِيْ / allaz\i>
memiliki makna ‘yang’. Isim maus}u>l mengikuti
beberapa pola bentuk yang terdiri dari:
a. Mufrad (1), mus\anna (2),
dan jama’ (J)
b. Muz\akkar
(L) dan muannas\
(P)
c. Berakal (manusia) dan tidak berakal (selain manusia)
2.
Pertemuan isim maus}u>l dengan
min , yang berfungsi
sebagai penjelasan
(بيانية).
Dalam menerjemahkan kata-kata yang umumnya berupa isi setelah min tersebut sesungguhnya merupakan pesan yang
lebih jelas dan konkrit dari lafaz ma>. Oleh karena itu
dalam menerjemahkan kata-kata setelah min diletakkan
dalam ma>.
[1]Ibnu Burdah, Menjadi
Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab, (Cet; 1, Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya, 2004), h. 9.
[2]Yayan Nurbayan,
Pen garuh Struktur Bahasa Arab Terhadap Bahasa Indonesia Dalam Terjemahan
Alquran, Jurnal Arabiya>t, Vol: 1, 2014, h. 21.
[3]Linda Kasari,
Dkk, Isim Maus}u>l dalam Alquran
Surat Al-Kahfi Kajian Sintaksis dan Semantik, Prosiding Konferensi Nasional
Bahasa Arab IV, 2018, h. 1.
[4]Ibnu Burdah, Menjadi
Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab, h. 111.
[5]Ibnu Rawandhy
N. Hula dan Damhuri, Bahasa Arab Untuk para Pemula (اللغة
العربية للمبتدئين), (Cet; 1,
Gorontalo: Sultan Amai Press, 2009), h. 117.
[6]Iis Ismayati,
“Ketakrifan Dalam Bahasa Arab: Sebuah Kajian Sintak-Semantik” (Skripsi Sarjana,
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Jakarta, 2010), h. 44.
[7]Ibnu Rawandhy
N. Hula, Dkk, Bahasa Arab (1), (Cet; VI, Gorontalo: El-Qisthi Percetakan
dan Foto Copy, 2016), h. 85.
[8]Ibnu Rawandhy
N. Hula dan Damhuri, Bahasa Arab Untuk para Pemula (اللغة
العربية للمبتدئين), h. 120.
[9]Iis Ismayati,
“Ketakrifan Dalam Bahasa Arab: Sebuah Kajian Sintak-Semantik”, h. 45.
[10]Ibnu Rawandhy
N. Hula, Dkk, Bahasa Arab (1), h. 87.
[11]Kementerian
Agama RI, Mushaf Al-Firdaus: Al-Qur’an Hafalan, Terjemah, Penjelasan Tematik
Ayat, (Cet; 8, Jakarta: Al-Fadhilah, 2012), 1
[12]Iman Saiful
Mu’minin, Kamus Ilmu Nahwu & Sharaf, (Cet; 2, Jakarta: Amzah, 2013),
h. 239-240.
[13]Ibnu Burdah, Menjadi
Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab, h. 118.
[14]H. Rofi’i, Dalil
Fi Al-Tarjamah, (Cet; 1, Jakarta: Persada Kemala, 2002), h. 1.