Selasa, 28 Juli 2020

MAKALAH TARJAMAH 2 : Pertemuan Isim Mausul dan Min dan Ma


 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Definisi terjemah yakni sebagai usaha memindahkan pesan dari teks berbahasa Arab (teks sumber) dengan padanannya ke dalam bahasa Indonesia (bahasa sasaran).[1] Kegiatan penerjemahan mempunyai peranan penting dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan informasi dalam berbagai bidang kehidupan seperti agama, sosial-politik, ekonomi, dan budaya.[2]
Dalam pembelajaran bahasa Arab tidak terlepas dari empat kajian, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Sintaksis atau ilmu nahwu membahas tentang kata dan proses penyusunannya hingga menjadi sebuah kalimat. Sedangkan semantik atau ilmu dilalah membahas tentang makna leksikal, gramatikal, ataupun kontekstual.
Dalam proses penerjemahan tak lepas dari berbagai problematika dalam menerjemahkan kosa kata ataupun ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab yang telah dikenal dan digunakan secara luas namun tidak sepenuhnya sesuai dari aturan yang berlaku secara umum, baik dari aspek susunan maupun makna.
Isim maus}u>l merupakan salah satu permasalahan yang dapat menjadikan seseorang tidak tepat dalam memaknai  atau memahami arti kata sesuai dengan konteks kalimat yang dimaksud, karena bentuk isim maus}u>l yang bermacam-macam.[3] Selain itu, terdapat ungkapan-ungkapan populer biasanya hanya membahas perbendaharaan istilah atau kosa kata yang memiliki makna berbeda dengan makna umum[4] dan mempunyai keterkaitan makna dengan kosa kata yang lain.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan isim maus}u>l (اسم موصول)?
2.      Bagaimana pertemuan isim maus}u>l (اسم موصول), dan min (من), dan ma> (ما)?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari isim maus}u>l (اسم موصول).
3.      Untuk mengetahui pertemuan isim maus}u>l (اسم موصول), dan min (من), dan ma>  (ما).


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Isim Maus}u>l (اسم موصول)
إِسْمُ مَوْصُوْلِ : هُوَ مَا دَلَّ عَلَى شَيْءٍ مُعَيَّنٍ لِصِلَّةِ الْكَلِمَةِ أَوِ الْجُمْلَةِ
Isim maus}u>l merupakan isim yang menunjukkan sesuatu tertentu yang berfungsi untuk menghubungkan kata ataupun kalimat.[5] Isim maus}u>l termasuk salah satu jenis isim marifah. Isim maus}u>l merupakan isim yang dipergunakan untuk menghubungkan sebuah kata, frasa atau klausa dengan kata, frasa atau klausa lainnya, yang biasanya dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “YANG”.
Isim maus}u>l adalah isim yang berfungsi sebagai penghubung beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Fungsi lain dari isim maus}u>l yaitu sebagai penghubung dan menunjuk kembali pada kata yang mendahuluinya. Kata penghubung dalam bahasa Arab pada prinsipnya mempunyai kesamaan dan juga perbedaan dengan kata penghubung dalam bahasa-bahasa lain.[6]
Dalam bahasa Indonesia isim maus}u>l tidak memiliki  arti yang khusus, namun dapat diwakili dengan kata yang, orang, tempat, dan dapat berarti pula barang atau sesuatu. Isim maus}u>l dalam bahasa Arab memiliki kesesuaian jumlah dan jenis. Salah satu isim maus}u>l yang dapat dijumpai dalam bentuk الَّذِيْ / allaz\i.>
Isim maus}u>l  dalam bahasa Arab tetap mengikuti dan menyesuaikan pada aturan bentuk:
1.      Mufrad (1), Mus\anna (2), dan Jama (J)
2.      Muz\akkar (L) dan Muannas\ (P)
3.      Berakal (Manusia) dan Tidak berakal (selain manusia).[7] Seperti dalam tabel berikut.

Jumlah
Jenis
Muz\akkar
Muannas\
Mufrad
الَّذِي
الَّتِي
Mus\anna
اللَّذَانِ
اللَّتَانِ
Jama
الَّذِيْنَ
اللَّاتِيْ
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah yang terdiri atas mufrad, mus\anna dan jama, masing-masing memiliki dua jenis yaitu bentuk muz\akkar dan muannas\.
Adapun contoh-contoh penggunaan isim maus}u>l dalam kalimat sempurna baik dalam bentuk lil aqil maupun li gairil aqil sebagai berikut.
a.       Untuk muz\akkar
1)      Mufrad / الَّذِي
الطَّالِبُ الَّذِيْ يَتَعَلَّمُ الفِقْهَ مَاهِرٌ
“Mahasiswa yang belajar fikih itu pintar”[8]
2)      Mus\anna / اللَّذَانِ
الْمِفْتَحَانِ اللَّذَانِ وَضَعْتُهُمَا عَلَى الْمَكْتَبِ جَمِيْلاَنِ
 “Dua kunci yang saya letakkan di atas meja itu, keduanya indah”
3)      Jama / الَّذِيْنَ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ
“Para Guru laki-laki yang mengajar fikih itu datang”[9]
b.      Untuk muannas\
1)      Mufrad / الَّتِي
الطَّالِبَةُ الَّتِيْ تَتَعَلَّمُ الْفِقْهَ مَاهِرَةٌ
“Mahasiswi yang belajar fikih itu pintar”[10]
2)      Mus\anna / اللَّتَانِ
الْحَقِيْبَتَانِ اللَّتَانِ وَضَعْتُهُمَا عَلَى الْمَكْتَبِ جَمِيْلَتَانِ
“Dua tas yang saya letakkan di atas meja itu, keduanya indah”
3)    Jama / اللَّاتِيْ
الطَّالِبَاتُ اللَّاتِيْ يَتَعَلَّمْنَ الْفِقْهَ مَاهِرَاتٌ
“Para mahasiswi yang belajar fikih itu semuanya pintar”
Adapun beberapa contoh penggunaan isim maus}u>l dalam Alquran sebagai berikut:
a.       QS. Al-Fatihah: 1: 7.
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّالِّينَ
Terjemahnya: “(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.[11]
b.      QS. Al-Fajr: 89: 9.
وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُواْ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ
Terjemahnya: “Dan (terhadap) kaum s\amu>d yang memotong batu-batu besar di lembah”.
c.       QS. Al-Mau>n: 107: 1.
أَرَئَيْتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ
Terjemahnya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama”.

B.     Pertemuan Isim Maus}u>l (اسم موصول), dan Min (من), dan Ma> (ما)?
Min adalah huruf jarr yang selalu men-jarr-kan isim za>hir dan isim d}ami>r. Ia mempunyai beberapa makna, yaitu tabi>d} (sebagian), menjelaskan jenis, ibtida> ga>yah (permulaan) yang menunjukkan makna tempat, ibtida> ga>yah yang menunjukkan makna waktu, za>idah (tambahan), tali>l (alasan) dan sebagai badal (pengganti).[12]
Pertemuan isim maus}u>l dengan مِن, yang berfungsi sebagai penjelasan (بيانية). Dalam bahasa Arab sering sekali sekali digunakan kalimat yang didalamnya terdapat isim maus}u>l (ما, مَن, الذي) yang kemudian diikuti oleh harf jarr مِن yang disebut بيانية atau penjelas.
Apabila sebelum kata tersebut terdapat kata ma> atau kata yang maknanya masih bersifat nakirah (belum jelas), seringkali ia merupakan min yang dimaksudkan untuk menjelaskan kata ma>  tersebut. Oleh karena itu cara penerjemahannya berbeda dari min biasa yang bermakna ‘dari’. Kata-kata yang umumnya berupa isi setelah min tersebut sesungguhnya merupakan pesan yang lebih jelas dan konkrit dari lafaz ma>. Oleh karena itu, dalam menerjemahkan kata-kata setelah min diletakkan dalam ma>.[13] Sebagai contoh:
1. اِنَّ مَا تَحَقَّقَ مُحَمَّدٌ مِنْ نَجَاحِ لَيْسَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Diterjemahkan: Keberhasilan yang dicapai Muhammad sesungguhnya bukan merupakan hasil dari jerih payahnya sendiri.
Dalam menerjemahkannya seolah-olah tidak ada ma>  dan min sehingga kalimatnya menjadi :
(Bukan: Sesuatu yang dicapai Muhammad dari keberhasilan bukan merupakan hasil dari jerih payahnya sendiri).
Dalam menerjemahkannya seolah-olah tidak ada ma>  dan min sehingga kalimatnya menjadi :
اِنَّ نَجَاحِ تَحَقَّقَ مُحَمَّدٌ لَيْسَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
2. وَلَكِنْ ذَلِكَ لَا يُحَقِّقُ مَا أَتَمَنَاهُ مِنْ تَقَدُّمِ
Diterjemahkan: Akan tetapi hal itu tidak sesuai dengan kemajuan yang saya harapkan.
(Bukan: Akan tetapi, hal itu tidak sesuai dengan sesuatu yang saya harapkan dari kemajuan). Seolah-olah kalimatnya menjadi :
وَلَكِنْ ذَلِكَ لَا يُحَقِّقُ تَقَدُّمِ أَتَمَنَاهُ

3. فَيْ هَذَا الكِتَابِ يَقِفُ الْقَارِئُ عَلَى مَا يَجْرِى فِيْ حُجْرَةِ الْعَلَاجِ مِنْ تَفَاصِيْل وَدَقَائِق
Diterjemahkan: “Dalam buku ini pembaca dapat memperhatikan (secara seksama) aspek-aspek rinci dan detail yang terjadi di ruang pengobatan (penyembuhan)”. Seolah-olah kalimatnya menjadi :
فَيْ هَذَا الكِتَابِ يَقِفُ الْقَارِئُ عَلَى تَفَاصِيْلِ وَدَقَائِقِ يَجْرِى فِيْ حُجْرَةِ الْعَلَاجِ

4. وَنَحْنُ نَعْتَرِفُ أَنَّ مَا أَصَابَ العَقْلِ المُسْلِمِ مِنْ صُدُوْعِ وَ رُضُوْضِ لاَ يُمْكِن أَنْ يُعَالِجَ بِكِتَابٍ أَوْ مُحَاضَرَةٍ أَوْ بَحْثٍ
Diterjemahkan: “Kami mengakui bahwa sebenarnya kekacauan yang menimpa nalar Islam tidak mungkin diterapi (hanya) dengan buku, seminar maupun penelitian”. Seolah-olah kalimatnya menjadi :
وَنَحْنُ نَعْتَرِفُ أَنَّ صُدُوْعِ وَ رُضُوْضِ أَصَابَ العَقْلِ المُسْلِمِ لاَ يُمْكِن أَنْ يُعَالِجَ بِكِتَابٍ أَوْ مُحَاضَرَةٍ أَوْ بَحْثٍ

5.  الْقُرْاَنُ وَمَا فِيْهِ مِنْ كَلِمَاتٍ أَجْنَبِيَةٍ
Diterjemahkan: Alquran dan kata-kata asing didalamnya.        
(Bukan: Alquran dan hal-hal yang ada didalamnya itu dari kata-kata asing).
Kalimat seperti itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seolah tidak ada isim maus}u>l ma> dan min didalamnya, kemudian dari kata sebelum isim maus}u>l ma>  meloncat kepada kata sesudah min, sesudah itu kembali kepada kata sesudah isim maus}u>l itu.[14] Sehingga kalimatnya menjadi :
الْقُرْاَنُ وَ كَلِمَاتٌ أَجْنَبِيَةٌ فِيْهِ
6. إِشْتَرَيْتُ مَا فِي الْمَكْتَبَةِ مِنْ الْكُتُبِ وَالْمَجَلاَّتِ أَمْسِ
Dalam kalimat itu seolah-olah tidak ada ma>  dan min sehingga tidak diterjemahkan, Saya telah membeli barang-barang di perpustakaan/toko buku dari buku-buku dan majalah-majalah kemarin itu, melainkan diterjemahkan menjadi, “Saya telah membeli buku dan majalah yang di toko itu kemarin”. Sehingga kalimatnya menjadi :
إِشْتَرَيْتُ الْكُتُبَ وَالْمَجَلاَّتِ أَمْسِ فِي الْمَكْتَبَةِ .


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Isim maus}u>l merupakan isim yang menunjukkan sesuatu tertentu yang berfungsi untuk menghubungkan kata ataupun kalimat dan termasuk salah satu jenis isim marifah. Salah satu isim maus}u>l yang dapat dijumpai dalam bentuk الَّذِيْ / allaz\i> memiliki makna ‘yang’. Isim maus}u>l mengikuti beberapa pola bentuk yang terdiri dari:
a.      Mufrad (1), mus\anna (2), dan jama (J)
b.      Muz\akkar (L) dan muannas\ (P)
c.       Berakal (manusia) dan tidak berakal (selain manusia)
2.      Pertemuan isim maus}u>l dengan min  , yang berfungsi sebagai penjelasan (بيانية). Dalam menerjemahkan kata-kata yang umumnya berupa isi setelah min  tersebut sesungguhnya merupakan pesan yang lebih jelas dan konkrit dari lafaz ma>. Oleh karena itu dalam menerjemahkan kata-kata setelah min diletakkan dalam ma>.


[1]Ibnu Burdah, Menjadi Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab, (Cet; 1, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), h. 9.
[2]Yayan Nurbayan, Pen garuh Struktur Bahasa Arab Terhadap Bahasa Indonesia Dalam Terjemahan Alquran, Jurnal Arabiya>t, Vol: 1, 2014, h. 21.
[3]Linda Kasari, Dkk, Isim Maus}u>l dalam Alquran Surat Al-Kahfi Kajian Sintaksis dan Semantik, Prosiding Konferensi Nasional Bahasa Arab IV, 2018, h. 1.
[4]Ibnu Burdah, Menjadi Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab, h. 111.
[5]Ibnu Rawandhy N. Hula dan Damhuri, Bahasa Arab Untuk para Pemula (اللغة العربية للمبتدئين), (Cet; 1, Gorontalo: Sultan Amai Press, 2009), h. 117.
[6]Iis Ismayati, “Ketakrifan Dalam Bahasa Arab: Sebuah Kajian Sintak-Semantik” (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Jakarta, 2010), h. 44.
[7]Ibnu Rawandhy N. Hula, Dkk, Bahasa Arab (1), (Cet; VI, Gorontalo: El-Qisthi Percetakan dan Foto Copy, 2016), h. 85.

[8]Ibnu Rawandhy N. Hula dan Damhuri, Bahasa Arab Untuk para Pemula (اللغة العربية للمبتدئين), h. 120.
[9]Iis Ismayati, “Ketakrifan Dalam Bahasa Arab: Sebuah Kajian Sintak-Semantik”, h. 45.
[10]Ibnu Rawandhy N. Hula, Dkk, Bahasa Arab (1), h. 87.
[11]Kementerian Agama RI, Mushaf Al-Firdaus: Al-Qur’an Hafalan, Terjemah, Penjelasan Tematik Ayat, (Cet; 8, Jakarta: Al-Fadhilah, 2012), 1
[12]Iman Saiful Mu’minin, Kamus Ilmu Nahwu & Sharaf, (Cet; 2, Jakarta: Amzah, 2013), h. 239-240.
[13]Ibnu Burdah, Menjadi Penerjemah: Metode dan Wawasan Menerjemah Teks Arab, h. 118.

[14]H. Rofi’i, Dalil Fi Al-Tarjamah, (Cet; 1, Jakarta: Persada Kemala, 2002), h. 1.