Selasa, 28 Juli 2020

MAKALAH ILMU LUGHAH DAN FIQIH LUGHAH : Bahasa Arab dan Rumpun Bahasa Semit


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebuah bahasa, termasuk bahasa Arab, pada awalnya bermula dari bahasa lisan (lugah al-Nutq) yang digunakan para pemakai bahasa untuk berkomunikasi dengan sesamanya. [1] Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa rumpun Semit yang masih bertahan saat ini. [2]
Bahasa Arab berasal dari rumpun bahasa-bahasa Semit (Semitic Language/Samiah). Bahasa-bahasa Semit yang lain termasuk Hebrew (bahasa Yahudi), Amrahic, Akkadian yang sekarang telah punah, dan Aramiki yang kini masih dipakai oleh penduduk beberapa kampung di Syiria.  Bahasa-bahasa Semit yang beraneka ragam tersebut menunjukkan persamaan-persamaan sintaksis, bunyi, perbendaharaan kata, serta aturan tata bahasa.[3]
Seperti disebutkan diatas, maka penulis menyusun makalah ini berisi tentang pembagian bahasa rumpun Semit, karakteristiknya, dan lain sebagainya mengenai rumpun bahasa Semit.

B.     Rumusan Masalah
Adapun beberapa rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Bagaimana pembagian bahasa rumpun Semit?
2.      Apa saja faktor-faktor perekat kekerabatan rumpun bahasa Semit?
3.      Bagaimana karakteristik bahasa Semit?
4.      Apa perbedaan antara bahasa rumpun Semit?
5.      Apa saja manfaat kajian bahasa rumpun Semit bagi kajian bahasa Arab?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pembagian bahasa rumpun Semit.
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor perekat kekerabatan rumpun bahasa Semit.
3.      Untuk mengetahui karakteristik bahasa Semit.
4.      Untuk mengetahui perbedaan antara bahasa rumpun Semit.
5.      Untuk mengetahui manfaat kajian bahasa rumpun Semit bagi kajian bahasa Arab.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pembagian Bahasa Rumpun Semit
Induk bahasa Semit adalah Proto-Semitika, yang oleh sebagian besar para ahli menganggap bahwa tempat lahirnya Proto-Semitika adalah Arab. Kata “Semitika” berasal dari nama Injil, Shem atau Sam, salah seorang putra nabi Nuh alaihissalam, yang dianggap sebagai bapak bangsa Semit. Yang pertama kali menggunakan istilah bahasa Semit adalah August Ludwig Schlozer seorang professor dari Jerman, sekitar tahun 1781. Namun perlu dicatat bahwa Ibn Hazm, seorang Andalusia, telah menunjukkan lebih dari seribu tahun yang lalu bahwa bahasa Syiria, Ibrani dan Arab berasal dari bahasa yang sama.[4]
Dewasa ini, bahasa-bahasa Semit dapat digolongkan sebagai berikut:
1.      Setengah kawasan bagian utara:
a.      Timur: Akkad atau Babylonia dan Assyria
b.  Utara: Aram dengan ragam timurnya dari bahasa Syiria, Mandera, dan Nabatea serta ragam baratnya dari Samaritan, Aram Yahudi dan Palmyra.
c.      Barat: Ibrani Injil, dan dialek Kanaan lainnya.
2.      Setengah kawasan bagian selatan:
a.       Utara: Arab
b.      Selatan: Sabea atau Himyari, Mahri, Hakili dan Geez atau Etiopik, dengan ragamnya dari dialek Tigre, Amharik dan Harari.[5]
Menurut Wildan Taufiq yang ditulis dalam bukunya, bahasa rumpun Semit terbagi tiga bagian besar, diantaranya:
1.      Bahasa Semit Timur (Syarqiyyah)
Bahasa Semit Timur (syarqiyyah) adalah bahasa Akadia. Bahasa Akadia memiliki dua cabang, yaitu bahasa Babilonia dan Asyuria, mengenai kedua bahasa tersebut, tidak informasi yang sampai kepada kita, kecuali berbagai prasasti yang ditulis dengan tulisan paku (khat mismary) diatas tanah yang dikeringkan.
 Kata Akadia sendiri berasal dari nama sebuah kota yang dibangun oleh raja Sarjundi bagian Utara wilayah Babilonia, sekitar tahun 2350 SM. Bahasa ini telah mati sejak dulu kala. Yang tersisa hanyalah prasasti-prasasti yang telah diketahui lewat sejarah bangsa Akadia sebagai bagian dari peradaban dan kebudayaan (purbakala).[6] Bahasa Akadia adalah bahasa Semit tertua yang dikenal, menggunakan huruf paku dalam system tulisannya, yang pada dasarnya diambil dari bahasa Sumeria kuno.
2.      Bahasa Semit Barat Laut (garbiyyah syimaliyyah)
Bahasa Semit Barat Laut (garbiyyah syimaliyyah) terbagi dua, bahasa Kan’an dan Aram. Bahasa Kan’an terbagi dua: bahasa Kan’an Utara dan Kan’an Selatan. Bahasa Kan’an Utara diwakili oleh bahasa Ugaritik, yaitu suatu dialek Kan’an kuno. Ugaritik adalah asalnya sebuah kota yang terletak 12 KM di sebelah Utara al-Ladziqiqyah, dekat pantai timur Suriah (laut tengah atau laut mediterania).
Adapun bahasa Kan’aniyyah Utara meliputi bahasa Ibrani. Teks paling penting yang ditulis dalam bahasa Ibrani adalah kitab “Perjanjian Lama” yang meliputi Taurat (Kitab Nabi Musa), dan kitab-kitab Nabi lain seperti Mazmur Nabi Dawud dan Ams|al Nabi Sulaiman.
Adapun bahasa Kan’an Selatan ada yang disebut dengan khit{a>ba>til al-Ima>ranah, yaitu surat-surat yang ditemukan di daerah bukit imaranah. Surat-surat tersebut dikirim oleh para raja-raja Suriah dan Palestina kepada raja-raja Mesir. Surat-surat tersebut ditulis dalam bahasa Asyur, serta terdapat catatan-catatan dalam bahasa Kan’an. Yang termasuk bahasa kan’an Selatan adalah bahasa Muabiyyah. Bagian kedua bahasa Semit Barat Laut adalah bahasa Aram. [7]
3.      Bahasa Semit Barat Daya (gharbiyyah janubiyyah)
Bahasa yang termasuk bahasa Semit Barat Daya adalah bahasa Arab dan bahasa Etofia (Habsyi). Bahasa Etofia adalah bahasa bangsa Semit yang keluar dari selatan Jazirah Arab ke negara seberang, yaitu Etofia. Disana pada awalnya mereka melakukan penjajahan terhadap negara Etofia tersebut, namun pada akhirnya mereka tinggal disana dan bercampur baur dengan penduduk lama dari bangsa Hemit.
Tidak ada yang mengetahui informasi tentang waktu bangsa Semit ini berimigrasi ke Etiofia. Namun dari informasi yang bisa dipercaya, mereka berimigrasi sekitar beberapa abad sebelum kelahiran nabi Isa (sebelum tahun masehi).

B.     Faktor-faktor Perekat Kekerabatan  Rumpun Bahasa Semit
Alasan-alasan kenapa bangsa-bangsa yang berbahasa Arab, terutama suku-suku nomad, dianggap sebagai representasi terbaik dari rumpun Semit, baik dari sisi biologis, psikologis, sosial maupun bahasa, bisa ditelusuri dari keterasingan mereka secara geografis dan dari keseragaman kehidupan padang pasir yang monoton. Karakteristik etnis mereka yang khas dibentuk oleh lingkungan yang keras dan terisolasi.[8]
Berikut ini merupakan beberapa faktor yang mempererat hubungan kekerabatan rumpun bahasa Semit.
1.      Bangsa-bangsa Semit tidak tinggal di daerah yang saling berjauhan, sebagaimana bangsa Indo-Eropa.
2.      Bangsa Semit yang tersebar di sejumlah daerah (negara) tetap berkomunikasi satu dengan yang lain. Serta bangsa Semit tidak berhenti berimigrasi ke negara tetangganya.
3.      Mayoritas bahasa-bahasa Semit disatukan oleh agama dan kebudayaan yang dipegang teguh oleh para penuturnya. Misalnya bangsa Arab disatukan oleh Alquran (yang menggunakan bahasa Arab) sebagai sumber ajaran agama Islam. Begitu pula dengan bangsa Yahudi, Suryani, Arami dan lainnya dipersatukan oleh keyakinan atau agama mereka. Dengan demikian dinamika bahasa Semit tidak begitu pesat, dengan kata lain bahasa Semit masih sangat dekat dengan (prototype) bahasa mereka.[9]

C.    Karakteristik Bahasa Semit
Salah satu ciri sifat bahasa-bahasa Semit yang paling memukau pada umumnya dan bahasa Arab pada khususnya adalah system pola (patron) dan akar kata. Akar katanya secara tipikal terdiri atas tiga konsonan pada satu order tertentu atau mempunyai dasar tiga huruf mati yang dibentuk dengan jalan pemasangan rangkaian (afikasi), berupa awalan (prefiks) dan akhiran (sufiks), serta perubahan huruf-huruf hidup.[10]
Menurut Philip K. Hitti yang ditulis dalam bukunya, dengan berhasil diterjemahkannya tulisan Arab kuno pada pertengahan abad ke-19 dan dilakukannya kajian komparatif tentang bahasa Assyria-Babilonia, Ibrani, Aramaik, Arab dan Etiopia, kita menemukan bahwa bahasa-bahasa itu memiliki kesamaan.[11]
Berikut ini karakteristik bahasa Semit menurut Ibrahim al-Hamd:
1.      Aspek Bunyi (As{wa>t)
Mayoritas bahasa Semit memiliki bunyi halq (faringal), yaitu ا, ه, ع, ح, غ, خ . Jika beberapa bunyi tidak ditemukan dalam beberapa bahasa, maka hal itu disebabkan karena pengaruh bahasa luar. Ada bunyi-bunyi bahasa Semit yang asli seperti bunyi ص, ض, ط, ق, ذ, ق. Ada pula bunyi bahasa turunan, seperti bunyi ظ  yang merupakan turunan dari bunyi ص .
2.      Aspek Morfologis (S{araf)
Pada aspek marfologis, bahasa-bahasa Semit merupakan bahasa isytiqaqi> (derivative) dan tas{rifi> (inflektif). Mayoritas bahasa Semit memiliki kata dasar yang berjumlah tiga huruf (s|ulas|i>), namun juga ditemukan yang berjumlah dua huruf (s|unaiy) dan empat huruf (rubai>).
3.      Aspek Waktu dalam Kata Kerja (Fiil)
Kata kerja pada bahasa-bahasa Semit memiliki dua kala atau waktu, yaitu kala lampau (ma>d{i>) dan kala sedang berlangsung (mustamir).
4.      Aspek Gender (Jins)
Bahasa-bahasa Semit membagi jenis kelamin (jins) menjadi dua, yaitu mudzakkar (maskulin) dan muannats (feminin). Tidak ditemukan jenis kelamin netral pada bahasa-bahasa Semit. Kalaupun ditemukan, bentuknya muz\akkar, tapi maknanya muannas\. Begitu pula sebaliknya.
5.      Aspek Jumlah pada Kata Benda (Isim)
Bahasa-bahasa Semit membagi jumlah isim ke dalam tiga kategori, yaitu mufrad (satu), mus\anna (dua), dan jamu (tiga lebih).
6.      Aspek             Irab
Aspek Irab  merupakan aspek yang cukup populer pada bahasa-bahasa Semit dan sudah dipakai dari zaman dahulu.
7.      Aspek Kosakata (mufrada>t)
Pada bahasa-bahasa Semit banyak ditemukan kosakata (mufrada>t) yang maknanya mirip satu sama lain. Contohnya banyaknya kemiripan pada kata ganti (d{ami>r), jumlah bilangan (adad), nama-nama anggota keluarga, anggota badan, serta sejumlah kata yang menunjukkan pada kehidupan bangsa-bangsa Semit.[12]

D.    Perbedaan Antar Bahasa Rumpun Semit
Berikut ini terdapat beberapa perbedaan antara bahasa Semit, yaitu dalam aspek gramatika, bunyi, dan kosakata:
1.      Gramatika
Perbedaan gramatika misalnya dalam bahasa Arab a~dat tarif adalah alif lam yang ditempatkan di awal kata. Sementara dalam bahasa Semit lain, misalnya bahasa Ibrani dan bahasa Arab yang telah punah (badiah), a~dat tarif nya adalah ha (ه) yang diletakkan di awal kata. Dalam bahasa Sabiyyah, a~dat tarif adalah nun (ن) yang diletakkan di akhir kata. Adapun dalam bahasa Asyuria, babilonia dan Etiofia tidak memiliki a~dat tarif sama sekali. Perbedaan lain adalah huruf tambahan untuk jamak muz\akkar dalam bahasa Ibrani adalah huruf بم, sedang untuk jamak muannas\ adalah وت. Dalam bahasa Aram huruf tambahan bagi jamak muz\akkar adalah ين dipakai sebagai huruf tambahan ketika kedudukan nas}ab dan jar, sedang dalam keadaan rafa huruf tambahannya adalah ون. Sedangkan untuk menunjukkan jamak muannas\, dalam bahasa Arab diberikan hurufات .[13]
2.      Bunyi
Perbedaan dari aspek bunyi, misalnya bunyi ذ, غ, ظ, dan ض, tidak ditemukan dalam bahasa Ibrani. Sementara bunyi P (ب) dan V (ف) dalam bahasa Ibrani, tidak ditemukan dalam bahasa Arab. Bunyi ع, ق, dan ش tidak ditemukan dalam bahasa Babilonia. Kebanyakan kata yang menggunakan huruf ص dalam bahasa Ibrani, biasanya dalam bahasa Arab atau Etofia diganti dengan ش, begitu juga sebaliknya.
3.      Kosakata (mufrada>t))
Perbedaan dalam kosa kata yang dipergunakan antar bahasa-bahasa Semit, tampak pada banyak sekali hingga kata-kata yang maknanya suadah sangat populer, dalam bahasa Semit, seperti kata خيمة, جبل, شيخ, صي  dan sebagainya.

E.     Manfaat Kajian Bahasa Semit bagi Kajian Bahasa Arab
Menurut Ramdham Abduttawwab, mengkaji bahasa Semit memiliki manfaat yang cukup banyak bagi yang mengkaji bahasa Arab. Hal ini barangkali yang menjadi rahasia kesuksesan para orientalis mengkaji bahasa Arab.
Menurut Ibrahim al-Hamd, kajian bahasa Semit memiliki dua manfaat sebagai berikut:
1.      Penelitian sejarah komparatif bahasa-bahasa Semit sangat membantu untuk memecahkan problematika bahasa Arab, seperti problematika dilalah (makna bahasa) yang termasuk di dalamnya adalah taraduf (sinonim), isytiraq (polisemi), dan ibdal (pergantian makna).
2.      Senada dengan poin ke dua di atas, secara spesifik Abduttawwab memberikan contoh-contoh peran pentingnya kajian bahasa Semit bagi kajian bahasa Arab dengan pendekatan historis komparatif.
a.    Firman Allah swt dalam surat al-Baqarah ayat 61:
فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا
Terjemahnya: “…mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-sayuran, ketimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah”.
Ibnu Mas’ud membaca وفومها dengan وثومها. Ia mengganti huruf fa dengan s\a. Ini adalah wawasan tentang bahasa-bahasa Semit. Menurut kaidah bahasa Semit, huruf s\a dalam bahasa Arab, sama dengan huruf ta dalam bahasa Aram dan huruf syin dalam bahasa Ibrani. Sementara huruf fa pada kata وفومها merupakan perkembangan dari s\a.
b.   Kata ليس dalam bahasa Arab merupakan kelompok كان, menurut para ulama nahwu Arab dianggap sebagai fiil jamid yang tidak bisa ditasrifkan. Namun jika dibandingkan dengan yang mirip dengannya dalam bahasa-bahasa Semit lain, maka kata tersebut terdiri dari suku kata, yaitu kata لا dan أيس.
c.    Para ulama nahwu berkeyakinan bahwa hamzah pada kata اطمأن adalah huruf asli, bukan tambahan (zaidah). Padahal dalam bahasa Ibrani ditemukan kata طمن tanpa hamzah. Alasan ilmiahnya adalah bahwa kata tersebut asalnya اطمان ber-wazan افعال dengan mauzun احمار. Karena kata tersebut banyak digunakan dalam syair.[14]

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan beberapa materi di atas, dengan ini penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pembagian bahasa rumpun Semit dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: bahasa Semit Timur (syarqiyyah), bahasa Semit Barat Laut (gharbiyyah syimaliyyah), dan bahasa Semit Barat Daya (gharbiyyah janubiyyah).
2.      Faktor-faktor perekat kekerabatan rumpun bahasa Semit salah satunya karena faktor geografis yang terletak saling berdekatan. Selain itu, bangsa Semit yang tidak berhenti berimigrasi ke negara tetangganya.
3.      Karakteristik bahasa Semit secara umum memiliki system pola (patron) dan akar kata. Akar katanya secara tipikal terdiri atas tiga konsonan.
4.      Perbedaan antar bahasa rumpun Semit terdapat pada tiga aspek, yaitu: aspek gramatika, aspek bunyi, dan aspek kosakata.
5.      Adapun manfaat kajian bahasa Semit bagi kajian bahasa Arab adalah sebagai berikut:
a.     Mengetahui sejarah bangsa-bangsa Semit yang satu sama lain saling berhubungan dekat dari segi adat-istiadat, tradisi, agama, kebudayaan serta efeknya bagi bangsa Arab.
b.    Penelitian sejarah komparatif bahasa-bahasa Semit sangat membantu untuk memecahkan problematika bahasa Arab, seperti problematika dilalah (makna bahasa) yang termasuk di dalamnya adalah taraduf (sinonim), isytiraq (polisemi), dan ibdal (pergantian makna).


[1]Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, Cet. 1; (Yogyakarta: UIN Malang Press, 2008), h. 183.
[2]Philip K. Hitti, History Of Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2010), h. 9.
[3]Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, Cet. 2; (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004), h. 2.
[4]Ayuba Pantu, SINTAKSIS BAHASA ARAB: Studi Analisis Kontrastif dengan Bahasa Indonesia, (Cet. 1; Gorontalo: Sultan Amai Press, 2011), h. 67.
[5]Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, h. 178.
[6]Wildan Taufiq, Fiqih Lughah (Pengantar Linguistik Arab), Cet. 1; (Bandung: CV Nuansa Aulia, 2015), h. 47.
[7]Wildan Taufiq, Fiqih Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 55-56.
[8]Philip K. Hitti, History Of Arabs, h. 10.
[9]Wildan Taufiq, Fiqih Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 60-61.
[10]Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya, h. 4-5.
[11]Philip K. Hitti, History Of Arabs, h. 11.

[12]Wildan Taufiq, Fiqih Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 63-65.
[13]Wildan Taufiq, Fiqih Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 65-66.
[14]Wildan Taufiq, Fiqih Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 66-68.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar