BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebuah bahasa, termasuk bahasa Arab, pada awalnya bermula dari
bahasa lisan (lugah al-Nutq) yang digunakan para pemakai bahasa untuk
berkomunikasi dengan sesamanya. [1]
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa rumpun Semit yang masih bertahan saat
ini. [2]
Bahasa Arab berasal dari rumpun bahasa-bahasa Semit (Semitic
Language/Samiah). Bahasa-bahasa Semit yang lain termasuk Hebrew (bahasa
Yahudi), Amrahic, Akkadian yang sekarang telah punah, dan Aramiki
yang kini masih dipakai oleh penduduk beberapa kampung di Syiria. Bahasa-bahasa Semit yang beraneka ragam
tersebut menunjukkan persamaan-persamaan sintaksis, bunyi, perbendaharaan kata,
serta aturan tata bahasa.[3]
Seperti disebutkan diatas, maka penulis menyusun makalah ini berisi
tentang pembagian bahasa rumpun Semit, karakteristiknya, dan lain sebagainya
mengenai rumpun bahasa Semit.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun beberapa rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.
Bagaimana pembagian
bahasa rumpun Semit?
2.
Apa saja
faktor-faktor perekat kekerabatan rumpun bahasa Semit?
3.
Bagaimana
karakteristik bahasa Semit?
4.
Apa perbedaan
antara bahasa rumpun Semit?
5.
Apa saja
manfaat kajian bahasa rumpun Semit bagi kajian bahasa Arab?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pembagian bahasa rumpun Semit.
2.
Untuk
mengetahui faktor-faktor perekat kekerabatan rumpun bahasa Semit.
3.
Untuk
mengetahui karakteristik bahasa Semit.
4.
Untuk
mengetahui perbedaan antara bahasa rumpun Semit.
5.
Untuk
mengetahui manfaat kajian bahasa rumpun Semit bagi kajian bahasa Arab.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pembagian
Bahasa Rumpun Semit
Induk bahasa Semit adalah Proto-Semitika, yang oleh sebagian besar
para ahli menganggap bahwa tempat lahirnya Proto-Semitika adalah Arab. Kata “Semitika”
berasal dari nama Injil, Shem atau Sam, salah seorang putra nabi Nuh
alaihissalam, yang dianggap sebagai bapak bangsa Semit. Yang pertama kali
menggunakan istilah bahasa Semit adalah August Ludwig Schlozer seorang
professor dari Jerman, sekitar tahun 1781. Namun perlu dicatat bahwa Ibn Hazm,
seorang Andalusia, telah menunjukkan lebih dari seribu tahun yang lalu bahwa
bahasa Syiria, Ibrani dan Arab berasal dari bahasa yang sama.[4]
Dewasa ini, bahasa-bahasa Semit dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Setengah kawasan bagian utara:
a. Timur: Akkad
atau Babylonia dan Assyria
b. Utara: Aram
dengan ragam timurnya dari bahasa Syiria, Mandera, dan Nabatea serta ragam
baratnya dari Samaritan, Aram Yahudi dan Palmyra.
c. Barat: Ibrani
Injil, dan dialek Kanaan lainnya.
2. Setengah kawasan bagian selatan:
a.
Utara: Arab
b.
Selatan: Sabea
atau Himyari, Mahri, Hakili dan Geez atau Etiopik, dengan ragamnya dari dialek
Tigre, Amharik dan Harari.[5]
Menurut Wildan Taufiq yang ditulis dalam bukunya, bahasa rumpun Semit
terbagi tiga bagian besar, diantaranya:
1.
Bahasa
Semit Timur (Syarqiyyah)
Bahasa Semit Timur (syarqiyyah) adalah bahasa Akadia. Bahasa
Akadia memiliki dua cabang, yaitu bahasa Babilonia dan Asyuria, mengenai kedua
bahasa tersebut, tidak informasi yang sampai kepada kita, kecuali berbagai
prasasti yang ditulis dengan tulisan paku (khat mismary) diatas tanah
yang dikeringkan.
Kata Akadia sendiri berasal
dari nama sebuah kota yang dibangun oleh raja Sarjundi bagian Utara wilayah
Babilonia, sekitar tahun 2350 SM. Bahasa ini telah mati sejak dulu kala. Yang
tersisa hanyalah prasasti-prasasti yang telah diketahui lewat sejarah bangsa
Akadia sebagai bagian dari peradaban dan kebudayaan (purbakala).[6]
Bahasa Akadia adalah bahasa Semit tertua yang dikenal, menggunakan huruf paku
dalam system tulisannya, yang pada dasarnya diambil dari bahasa Sumeria kuno.
2.
Bahasa
Semit Barat Laut (garbiyyah syimaliyyah)
Bahasa Semit Barat Laut (garbiyyah syimaliyyah) terbagi dua, bahasa
Kan’an dan Aram. Bahasa Kan’an terbagi dua: bahasa Kan’an Utara dan Kan’an
Selatan. Bahasa Kan’an Utara diwakili oleh bahasa Ugaritik, yaitu suatu dialek
Kan’an kuno. Ugaritik adalah asalnya sebuah kota yang terletak 12 KM di sebelah
Utara al-Ladziqiqyah, dekat pantai timur Suriah (laut tengah atau laut
mediterania).
Adapun bahasa Kan’aniyyah Utara meliputi bahasa Ibrani. Teks paling
penting yang ditulis dalam bahasa Ibrani adalah kitab “Perjanjian Lama” yang
meliputi Taurat (Kitab Nabi Musa), dan kitab-kitab Nabi lain seperti Mazmur
Nabi Dawud dan Ams|al
Nabi Sulaiman.
Adapun bahasa Kan’an Selatan ada yang disebut dengan khit{a>ba>til
al-Ima>ranah, yaitu surat-surat yang ditemukan di daerah bukit imaranah.
Surat-surat tersebut dikirim oleh para raja-raja Suriah dan Palestina kepada
raja-raja Mesir. Surat-surat tersebut ditulis dalam bahasa Asyur, serta
terdapat catatan-catatan dalam bahasa Kan’an. Yang termasuk bahasa kan’an
Selatan adalah bahasa Muabiyyah. Bagian kedua bahasa Semit Barat Laut adalah
bahasa Aram. [7]
3.
Bahasa
Semit Barat Daya (gharbiyyah janubiyyah)
Bahasa yang termasuk bahasa Semit Barat Daya adalah bahasa Arab dan
bahasa Etofia (Habsyi). Bahasa Etofia adalah bahasa bangsa Semit yang
keluar dari selatan Jazirah Arab ke negara seberang, yaitu Etofia. Disana pada
awalnya mereka melakukan penjajahan terhadap negara Etofia tersebut, namun pada
akhirnya mereka tinggal disana dan bercampur baur dengan penduduk lama dari
bangsa Hemit.
Tidak ada yang mengetahui informasi tentang waktu bangsa Semit ini
berimigrasi ke Etiofia. Namun dari informasi yang bisa dipercaya, mereka
berimigrasi sekitar beberapa abad sebelum kelahiran nabi Isa (sebelum tahun
masehi).
B.
Faktor-faktor
Perekat Kekerabatan Rumpun Bahasa Semit
Alasan-alasan kenapa bangsa-bangsa yang berbahasa Arab, terutama
suku-suku nomad, dianggap sebagai representasi terbaik dari rumpun Semit, baik
dari sisi biologis, psikologis, sosial maupun bahasa, bisa ditelusuri dari
keterasingan mereka secara geografis dan dari keseragaman kehidupan padang
pasir yang monoton. Karakteristik etnis mereka yang khas dibentuk oleh
lingkungan yang keras dan terisolasi.[8]
Berikut ini merupakan beberapa faktor yang mempererat hubungan
kekerabatan rumpun bahasa Semit.
1.
Bangsa-bangsa Semit
tidak tinggal di daerah yang saling berjauhan, sebagaimana bangsa Indo-Eropa.
2.
Bangsa Semit
yang tersebar di sejumlah daerah (negara) tetap berkomunikasi satu dengan yang
lain. Serta bangsa Semit tidak berhenti berimigrasi ke negara tetangganya.
3.
Mayoritas
bahasa-bahasa Semit disatukan oleh agama dan kebudayaan yang dipegang teguh
oleh para penuturnya. Misalnya bangsa Arab disatukan oleh Alquran (yang
menggunakan bahasa Arab) sebagai sumber ajaran agama Islam. Begitu pula dengan
bangsa Yahudi, Suryani, Arami dan lainnya dipersatukan oleh keyakinan atau
agama mereka. Dengan demikian dinamika bahasa Semit tidak begitu pesat, dengan
kata lain bahasa Semit masih sangat dekat dengan (prototype) bahasa mereka.[9]
C.
Karakteristik
Bahasa Semit
Salah satu ciri sifat bahasa-bahasa Semit yang paling memukau pada
umumnya dan bahasa Arab pada khususnya adalah system pola (patron) dan akar
kata. Akar katanya secara tipikal terdiri atas tiga konsonan pada satu order
tertentu atau mempunyai dasar tiga huruf mati yang dibentuk dengan jalan
pemasangan rangkaian (afikasi), berupa awalan (prefiks) dan akhiran (sufiks),
serta perubahan huruf-huruf hidup.[10]
Menurut Philip K. Hitti yang ditulis dalam bukunya, dengan berhasil
diterjemahkannya tulisan Arab kuno pada pertengahan abad ke-19 dan dilakukannya
kajian komparatif tentang bahasa Assyria-Babilonia, Ibrani, Aramaik, Arab dan
Etiopia, kita menemukan bahwa bahasa-bahasa itu memiliki kesamaan.[11]
Berikut ini karakteristik bahasa Semit menurut Ibrahim al-Hamd:
1.
Aspek
Bunyi (As{wa>t)
Mayoritas bahasa Semit memiliki bunyi halq (faringal), yaitu
ا,
ه, ع, ح, غ, خ . Jika beberapa bunyi tidak ditemukan dalam
beberapa bahasa, maka hal itu disebabkan karena pengaruh bahasa luar. Ada
bunyi-bunyi bahasa Semit yang asli seperti bunyi ص, ض,
ط, ق, ذ, ق. Ada
pula bunyi bahasa turunan, seperti bunyi ظ yang
merupakan turunan dari bunyi ص .
2.
Aspek
Morfologis (S{araf)
Pada aspek marfologis, bahasa-bahasa Semit merupakan bahasa isytiqaqi> (derivative)
dan tas{rifi>
(inflektif). Mayoritas bahasa Semit memiliki kata dasar yang
berjumlah tiga huruf (s|ulas|i>),
namun juga ditemukan yang berjumlah dua huruf (s|unaiy)
dan empat huruf (ruba’i>).
3.
Aspek
Waktu dalam Kata Kerja (Fi’il)
Kata kerja pada bahasa-bahasa Semit memiliki dua kala atau waktu,
yaitu kala lampau (ma>d{i>)
dan kala sedang berlangsung (mustamir).
4.
Aspek
Gender (Jins)
Bahasa-bahasa Semit membagi jenis kelamin (jins)
menjadi dua, yaitu mudzakkar (maskulin) dan muannats (feminin).
Tidak ditemukan jenis kelamin netral pada bahasa-bahasa Semit. Kalaupun
ditemukan, bentuknya muz\akkar,
tapi maknanya muannas\.
Begitu pula sebaliknya.
5.
Aspek
Jumlah pada Kata Benda (Isim)
Bahasa-bahasa Semit membagi jumlah isim ke dalam tiga
kategori, yaitu mufrad
(satu), mus\anna
(dua), dan jam’u
(tiga lebih).
6.
Aspek
I’rab
Aspek I’rab merupakan aspek yang cukup populer pada
bahasa-bahasa Semit dan sudah dipakai dari zaman dahulu.
7.
Aspek
Kosakata (mufrada>t)
Pada bahasa-bahasa Semit banyak ditemukan kosakata (mufrada>t)
yang maknanya mirip satu sama lain. Contohnya banyaknya kemiripan pada kata
ganti (d{ami>r),
jumlah bilangan (’adad),
nama-nama anggota keluarga, anggota badan, serta sejumlah kata yang menunjukkan
pada kehidupan bangsa-bangsa Semit.[12]
D.
Perbedaan
Antar Bahasa Rumpun Semit
Berikut ini terdapat beberapa perbedaan antara bahasa Semit, yaitu
dalam aspek gramatika, bunyi, dan kosakata:
1.
Gramatika
Perbedaan gramatika misalnya dalam bahasa Arab ’a~dat ta’rif adalah
alif lam yang ditempatkan di awal kata. Sementara dalam bahasa Semit
lain, misalnya bahasa Ibrani dan bahasa Arab yang telah punah (badiah), ’a~dat ta’rif nya adalah
ha (ه) yang diletakkan di awal kata. Dalam bahasa Sabiyyah, ’a~dat ta’rif adalah
nun (ن) yang diletakkan di akhir kata. Adapun dalam bahasa Asyuria,
babilonia dan Etiofia tidak memiliki ’a~dat ta’rif sama
sekali. Perbedaan lain adalah huruf tambahan untuk jamak muz\akkar
dalam bahasa Ibrani adalah huruf بم, sedang untuk jamak muannas\ adalah
وت. Dalam bahasa Aram huruf tambahan bagi jamak muz\akkar adalah
ين dipakai sebagai huruf tambahan ketika kedudukan nas}ab dan
jar, sedang dalam keadaan rafa’ huruf
tambahannya adalah ون. Sedangkan untuk menunjukkan jamak muannas\,
dalam bahasa Arab diberikan hurufات .[13]
2.
Bunyi
Perbedaan dari aspek bunyi, misalnya bunyi ذ, غ, ظ, dan ض, tidak ditemukan dalam bahasa Ibrani. Sementara bunyi P (ب) dan V (ف) dalam bahasa Ibrani, tidak ditemukan dalam
bahasa Arab. Bunyi ع, ق, dan ش tidak ditemukan dalam bahasa Babilonia. Kebanyakan kata yang
menggunakan huruf ص dalam bahasa Ibrani, biasanya dalam bahasa Arab atau Etofia diganti
dengan ش, begitu juga sebaliknya.
3.
Kosakata (mufrada>t))
Perbedaan dalam kosa kata yang dipergunakan antar bahasa-bahasa Semit,
tampak pada banyak sekali hingga kata-kata yang maknanya suadah sangat populer,
dalam bahasa Semit, seperti kata خيمة, جبل,
شيخ, صي dan sebagainya.
E.
Manfaat
Kajian Bahasa Semit bagi Kajian Bahasa Arab
Menurut Ramdham Abduttawwab, mengkaji bahasa Semit memiliki manfaat
yang cukup banyak bagi yang mengkaji bahasa Arab. Hal ini barangkali yang
menjadi rahasia kesuksesan para orientalis mengkaji bahasa Arab.
Menurut Ibrahim al-Hamd, kajian bahasa Semit memiliki dua manfaat
sebagai berikut:
1.
Penelitian
sejarah komparatif bahasa-bahasa Semit sangat membantu untuk memecahkan
problematika bahasa Arab, seperti problematika dilalah (makna bahasa) yang
termasuk di dalamnya adalah taraduf (sinonim), isytiraq
(polisemi), dan ibdal (pergantian makna).
2.
Senada dengan
poin ke dua di atas, secara spesifik Abduttawwab memberikan contoh-contoh peran
pentingnya kajian bahasa Semit bagi kajian bahasa Arab dengan pendekatan historis
komparatif.
a.
Firman Allah
swt dalam surat al-Baqarah ayat 61:
“فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا
مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا
وَبَصَلِهَا”
Terjemahnya:
“…mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari
apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-sayuran, ketimun, bawang putih, kacang
adas, dan bawang merah”.
Ibnu
Mas’ud membaca
وفومها dengan وثومها. Ia mengganti huruf fa dengan s\a.
Ini adalah wawasan tentang bahasa-bahasa Semit. Menurut kaidah bahasa Semit,
huruf s\a dalam
bahasa Arab, sama dengan huruf ta dalam bahasa Aram dan huruf syin
dalam bahasa Ibrani. Sementara huruf fa pada kata وفومها merupakan perkembangan dari s\a.
b.
Kata ليس dalam bahasa Arab merupakan kelompok كان, menurut para ulama nahwu Arab dianggap
sebagai fi’il jamid
yang tidak bisa ditasrifkan. Namun jika dibandingkan dengan yang mirip
dengannya dalam bahasa-bahasa Semit lain, maka kata tersebut terdiri dari suku
kata, yaitu kata لا dan أيس.
c.
Para ulama
nahwu berkeyakinan bahwa hamzah pada kata اطمأن adalah huruf asli, bukan tambahan (zaidah).
Padahal dalam bahasa Ibrani ditemukan kata طمن tanpa hamzah. Alasan ilmiahnya adalah
bahwa kata tersebut asalnya اطمان ber-wazan افعال dengan mauzun احمار. Karena kata tersebut banyak digunakan dalam
syair.[14]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan beberapa materi di atas, dengan ini penulis dapat mengambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.
Pembagian
bahasa rumpun Semit dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: bahasa Semit Timur
(syarqiyyah), bahasa Semit Barat Laut (gharbiyyah syimaliyyah),
dan bahasa Semit Barat Daya (gharbiyyah janubiyyah).
2.
Faktor-faktor
perekat kekerabatan rumpun bahasa Semit salah satunya karena faktor geografis
yang terletak saling berdekatan. Selain itu, bangsa Semit yang tidak berhenti
berimigrasi ke negara tetangganya.
3.
Karakteristik
bahasa Semit secara umum memiliki system pola (patron) dan akar kata. Akar
katanya secara tipikal terdiri atas tiga konsonan.
4.
Perbedaan antar
bahasa rumpun Semit terdapat pada tiga aspek, yaitu: aspek gramatika, aspek
bunyi, dan aspek kosakata.
5.
Adapun manfaat
kajian bahasa Semit bagi kajian bahasa Arab adalah sebagai berikut:
a.
Mengetahui sejarah bangsa-bangsa Semit yang
satu sama lain saling berhubungan dekat dari segi adat-istiadat, tradisi,
agama, kebudayaan serta efeknya bagi bangsa Arab.
b.
Penelitian sejarah komparatif bahasa-bahasa Semit
sangat membantu untuk memecahkan problematika bahasa Arab, seperti problematika
dilalah (makna bahasa) yang termasuk di dalamnya adalah taraduf (sinonim),
isytiraq (polisemi), dan ibdal (pergantian makna).
[1]Taufiqurrochman,
Leksikologi Bahasa Arab, Cet. 1; (Yogyakarta: UIN Malang Press, 2008),
h. 183.
[2]Philip K.
Hitti, History Of Arabs, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2010), h. 9.
[3]Azhar Arsyad, Bahasa
Arab dan Metode Pengajarannya, Cet. 2; (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004),
h. 2.
[4]Ayuba Pantu, SINTAKSIS
BAHASA ARAB: Studi Analisis Kontrastif dengan Bahasa Indonesia, (Cet. 1;
Gorontalo: Sultan Amai Press, 2011), h. 67.
[5]Taufiqurrochman,
Leksikologi Bahasa Arab, h. 178.
[6]Wildan Taufiq, Fiqih
Lughah (Pengantar Linguistik Arab), Cet. 1; (Bandung: CV Nuansa Aulia,
2015), h. 47.
[7]Wildan Taufiq, Fiqih
Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 55-56.
[8]Philip K.
Hitti, History Of Arabs, h. 10.
[9]Wildan Taufiq, Fiqih
Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 60-61.
[10]Azhar Arsyad, Bahasa
Arab dan Metode Pengajarannya, h. 4-5.
[11]Philip K.
Hitti, History Of Arabs, h. 11.
[12]Wildan Taufiq, Fiqih
Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 63-65.
[13]Wildan Taufiq, Fiqih
Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 65-66.
[14]Wildan Taufiq, Fiqih
Lughah (Pengantar Linguistik Arab), h. 66-68.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar